Saya tidak menyukai polisi secara intansi. Sebab tingkah laku mereka sebagai aparatur negara yang kadang menyebalkan. Semboyan 'Siap Melayani Rakyat' dalam beberapa kesempatan terdengar bias, malah tanpa arti. Polisi tak jarang justru bersebrangan dengan rakyat dan bahkan melakukan intimidasi. Lihat saja beberapa kasus agraria yang terjadi di tanah nusantara ini. Polisi malah menjadi pengayom korporat, boneka negara.
Tapi merayakan insiden babak belurnya Brigadir Hanafi di GBK kemarin, tentu adalah perbuatan yang nir-logika dan nurani. Saya tau betul bagaimana bencinya kaum pesepakbola/pendukung klub sepak bola pada polisi. Namun saya tidak habis pikir, bagaimana perasaan keluarga Hanafi mendapati anggota keluarga tertimbah musibah seperti itu. Penuh darah. Kabarnya mata kirinya pecah dan terguyur air keras pula.
Secara instansi keberadaan polisi memang menyebalkan, bikin keki. Namun secara individual, sangatlah relatif. Hanafi mungkin saja adalah polisi yang baik, dalam arti dia ingin menjadi polisi disebabkan ingin berkontribusi meminimalisir kejahatan yang ada di tanah airnya dan juga sebagai pendaringan hidup diri serta sanak familinya. Bisa saja seperti itu. Walaupun di satu sisi, tak sedikit memang individu kepolisian yang asshole secara personal: tukang pungli, jual beli narkotika hasil barang bukti, secara terang-terangan membekingi pihak pemodal, dsb.
Yah, Hanafi hanyalah korban dari seragam yang dikenakannya, ia hanya menjalankan tugas sebagai mana mestinya. Karma salah sasaran dari perbuatan teman-temannya yang benar korup. Sehingga orang lain memandang sama pada sosoknya dan layak dimusuhi.
Saya hanya berasumsi soal kepribadian Hanafi, entah kebenarannya seperti apa.
Namun membalas kekerasan dengan kekerasan adalah sebuah hal yang konyol. Mau sampai kapan terus berjatuhan korban, darah, dan air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar