Minggu, 15 November 2015

Dia kini terkulai lemas. Sebab siang tadi berkutat antara hidup dan mati, beruntung tuhan masih memberikan kesempatan.

Dia adalah ayah yang keras, begitu juga tadi siang. Sifat pribadinya yang keraslah yang membuat ia tak tergoyahkan. Walau pelipisnya bocor beradu dashboard yang keras. Ia masih tetap sadar. Dasar manusia keras, pikir saya. Sekaligus hebat.

Dia baru saja melewati operasi perdananya, saya yakin dia nervous setengah mati. Tapi namanya juga manusia keras, ia pasti gengsi mengakuinya.

Dan sekarang kau terbaring dengan perban hampir setengah menutup wajah. Ditambah harus berpuasa. Ah saya jamin mulut mu tak sabar ingin meneguk kopi dan rokok, sebagaimana biasanya, bukan? Tenang, ini takkan lama. Lusa pun kau pasti bisa merasakannya lagi.

Kemarian hari perayaan ayah, tapi tak spesial buat saya. Karena jika saya ucapkan itu, kau pun akan mencibir, walaupun bisa saja dalam benak mu, bangga. Tapi hari ini saya tak ragu untuk menyemangati mu. Pun ucapan itu menjadi lebih bermakna.

Oh yah, saya izin keluar sebentar. Sebab saya ingin sekali merokok. Pun kau sudah terlelap. Saya janji hanya akan menghisap tiga batang rokok lalu kembali ke ruangan mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar