Oh yah, hari ini juga saya habis mengikuti kuliah umum di UI mengenai Anarkisme dan Nasionalisme, dengan pembicara Prof. Benedict Anderson dari Cornell University. Sejujur ini terbilang jarang, pasalnya tak banyak institusi pendidikan yang mau membahas isme satu ini. Karena memang anarkisme tidak sefamiliar teori komunisme, fasisme, ataupun nasionalisme itu sendiri. Sementara itu anarkisme atau anarki, di Indonesia, selalu dianggap sebagai sebuah tindakan yang mengacu pada brutalisme, lihat saja bagaimana media-media itu mencoba mendefinisikannya.
Saya benar-benar merasa iri pada institusi sekelas UI. Di saat semua PTN dan PTS mengacu pada pola pembelajaran di sana, UI mampu menjadi tempat yang sangat demokratis untuk menimba semua konsep ilmu pengetahuan. Berbeda sekali dengan kampus saya, di mana lebih mengutamakan nasionalisme dan militerisme nya. Yah, memang kampus saya itu adalah benih dari Kementrian Pertahanan. Tapi seharusnya, sebuah institusi itu mampu menjadi wadah yang netral terhadap setiap ilmu pengetahuan yang ada di dunia. Kita sebagai kaum akademisi perlu belajar banyak mengenai segala macam konsep pemikiran, bukannya malah dibatasi. Makanya lihat saja setiap kali seminar yang ada di kampus saya itu, semuanya tak bisa lepas dari perspektif Bela Negara. Sunggguh membosankan, saya merasa seperti anak SD. Salah satu alasan saya sudah muak dengan aktivitas perkuliahan di sana yang banalnya minta ampun. Hal ini juga yang membuat lulusan kampus saya, kalah dengan lulusan dari UI. Jelas saja, untuk belajarnya saja dibatasi. Padahal menurut Biro Kermawa, sekarang kampus saya mengacu pada UI karena kita sudah PTN. Alah! Omong kosong. Mana berani kampus saya mengadakan diskusi soal sejarah konflik 1965, jika tidak digilas aparat nantinya.
Saya juga takjub dengan antusiasme audiens yang begitu tinggi. Kuliah umum itu dihadiri oleh 60% anak muda dan 40% orang tua. Itu angka yang gila menurut saya untuk seukuran diskusi mengenai anarkisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar