Kita beriringan sepeda melintasi padang rumput yang indah nan luas pada suatu sore di sebuah desa, meneguk bir di tepian pantai sembari mengumbar keluh kesah tentang dunia, berteduh dari hujan yang membasahi kota, terhantam angin jalan raya ketika memacu motor, menyaksikan aktor dan aktris favorit dalam sebuah film terbaru, menikmati lantunan musik dari grup idola, menyantap kudapan lezat di sebuah cafe ternama, merasakan perih ketika disakiti oleh seseorang, merasakan gembira ketika wisuda, bersedih ketika sanak famili perlahan meninggal dunia, tubuh memar sebab ribut dengan preman pasar, merasakan ngilu di sekujur tubuh karena penyakit, merasakan simpatik atas konflik perang yang terjadi, terbahak-bahak akibat ulas komedian, mengendus aroma sampah di sudut rumah, menangis di hadapan tuhan.
Bagaimana jadinya jika itu semua ternyata hanyalah permainan otak yang bersimulasi, lalu merangsang indera penglihatan, perasa, peraba, pendengaran, dan penciuman ? Ternyata kita tidak sedang merasakan; melihat; mencium; mendengar apa-apa. Kita hanya sedang duduk diam dalam suatu ruangan serba putih bersama ribuan orang lainnya. Kita terperangkap dalam fantasi massal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar