Kamis, 13 Agustus 2015

Malam itu ketika saya, Dittus, Muslim, dan Iyoung lagi nongkrong di warkop dekat rumah. Tiba-tiba Dittus berseru, seperti seorang anak SMP yang sukses mengatakan cinta pada gadis populer di sekolah. Pemicunya adalah Giring yang mengabarkannya ingin membeli mobil -sudah hampir dua bulan Dittus mengakhiri bisnis sablon dan menjadi sales Toyota dalam dua minggu terakhir. Betapa bahagianya Dittus mendengar kabar tersebut, pasalnya selama bekerja ia merasakan sulitnya menjual mobil sementara waktu terus bergulir ke arah pencapaian target dari bos. Setelah segala upaya sudah perlahan dicoba, hal yang tak disangka justru datang dari yang terdekat. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas kali ini.

Mendengar Giring ingin membeli mobil sebagai hadiah pernikahannya -Oktober nanti ia akan lepas lajang-, membuat saya tergampar. Giring setahun lebih tua dari saya, dia hidup sebatang kara, orang tuanya telah meninggal secara berkala, dan abang-abangnya telah berkeluarga pun hidup jauh darinya. Sehari-hari, pria yang senang menggunduli kepalanya ini menjalankan usaha laundrynya yang sudah menahun. Giring adalah tipikal anak yang sederhana, sebagaimana teman-teman saya pada umumnya. Dia pemain gitar yang lumayan handal. Tidak begitu rebel, tidak pula religi, dia diantaranya. Namun yang membuat saya tergampar adalah kesungguhannya dalam menjalani hidup.

Saya tidak kagum dengan Giring yang akan membeli sebuah mobil. Dia menjalani hidupnya dengan penuh suka cita walaupun kondisinya seperti apapun: orang tua tiada, abang-abang sudah berkeluarga, hidupnya sehari-hari mengandalkan usaha. Membuat saya bercermin, ternyata ada orang yang hidup dalam situasi lebih sulit dari pada saya namun orang itu justru lebih bersyukur dari pada saya.

Sementara saya: uang jajan perbulan masih dapat, tempat tinggal pun ada, orang tua pun masih ada walaupun terpisah jarak. Tapi terkadang saya masih mengumpat sendiri lalu menulis balada dalam blog ini. Saya lantas berpikir, "gua bukan orang yang bersyukur!".

Kadang terlintas dalam kepala saya, "lo gak tau hidup yang gua jalanin sulitnya seperti apa?!" membuat saya congkak. Sebenarnya hidup saya tidak sesulit yang dipikirkan. Karna memang ada orang yang lebih sulit dari saya, dan mereka masih having fun. Mereka benar-benar bisa menerapkan amor fati. Saya bullshit.

Dengan kehidupan yang sekarang, kadang saya terpikirkan untuk mendapatkan belas kasih orang-orang. Sebagai reward atas menjalani kehidupan yang sulit ini. Betapa tolol dan kejamnya saya: menghendaki rasa iba berarti menginginkan orang lain menderita seperti kita.

Saya tidak mau hidup diatas rasa iba orang lain karna bukan itu yang sebenarnya saya inginkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar