Rabu, 30 September 2015

#savemaster

(C) alf2015





















PEMBANGUNAN BANAL

Atas namakan semua ini untuk kemajuan dan pembangunan
Otak mu cidera hingga lupa mencerna
Pendidikan adalah kebutuhan dasar pembangunan
Kau robohkan puing sekolah mereka
Lagi-lagi atas nama pembangunan
Lantas pembangunan seperti apa yang kau maksud ?
Ayo hitung berapa upeti yang masuk ke kantong
Cukupkah untuk pergi haji tahun depan ?
Negasikan nalar juga nurani
Gedung tinggi lebih penting, bukan ?
Ratakan seluruh bangunan pendidikan
Dirikan pusat perbelanjaan
Anjurkan kami wajib belajar
Tanamkan kami jam belajar
Kau rajam kami dengan kebijakan banal

p.s. didedikasikan untuk Sekolah Master dan kawan-kawan yang percaya bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan pendidikan.
Saya pikir time management telah disusun dengan baik. Saya kira dalam waktu kurang-lebih 24 jam saya bisa menyelesaikan tiga aktivitas sekaligus: kuliah-kerja-organisasi. Yah saya bisa menyusun waktu sedemikian rupa, pun mengakalinya agar ketiganya dapat berjalan kondusif. Pada akhirnya memang sejauh ini semua terkendali. Sialnya saya lupa aktivitas tidak hanya tiga itu saja, saya lupa meluangkan waktu untuk bebenah rumah, minimal lantai dua -tempat saya tinggal-.

Sekarang kondisi lantai dua tidak ubahnya gudang, debu ada menempel disetiap sudut. Bahkan pakaian bersih berserakan dimana-mana, kasurpun sama nasibnya. Siapa yang mau diandalkan selain diri sendiri, Papa dan Om punya tanggung jawabnya masing-masing, dan kami tak punya pembantu. Seharusnya akhir pekan bisa menjadi hari bersih-bersih, tapi selalu diisi sama agenda lain, seperti belakangan ini akhir pekan saya hectic menggarap foto dan video pra-wed nya Giring, kalau tidak masih dengan Aspirasi.

Hal ini yang luput dari perhitungan waktu saya. Sehingga kondisi seperti kapal pecah ini harus diterima dengan lapang dada.

Saya jadi paham kenapa orang-orang itu rela menyisihkan penghasilannya untuk membayar orang lain untuk sekedar bersih-bersih. Tapi tak mungkin saya tiru.

Minggu, 27 September 2015

Biarkan malam terus membumi
Biarkan ia tampil dengan apa adanya
Siang terlalu melangit
Pun terlalu mudah bermanipulasi
Biarkan malam polos
Gelap namun sejatinya berwarna
Jati diri mu di uji ketika itu
Panggung mu tampak ketika malam menjelang
Kau dapat peran maka mainkan
Siang kau berperan seperti Pinokio
Itu bukan kita
Biarkan malam yang membuktikan
Tertawa lepas menjelang mahatari terbit
Biarkan jiwa mu bangkit apa adanya
Siang penuh dengan kebohongan
Siang penuh dengan kemunafikan
Jangan tanyakan pagi
Pagi adalah awalan menjadi robot
Siapapun sadar akan itu
Hanya enggan mengakui
Atau malu
Malam memang jujur
Malam begitu sederhana
Aku suka malam

Jumat, 25 September 2015

Saya rasa ini sudah keterlaluan, kita begitu naif sejadi-jadinya. Ribuan slogan terus tertera, isinya pun sama semua. Indonesia. Indonesia. Indonesia. Ada apa dengan Indonesia ? Kita terjangkit inferiority complex dan seakan tak menyadarinya. Tenang kawan, negeri ini bukan pesakitan. Bukan juga lantaran para makhluk asing tersebut. Kita rusak karena kita.

Kenaifan ini mampu menciptakan keuntungan bagi sekelompok orang yang pandai membentuk lembaga. Sisanya merusak, sisanya bersuara, sisanya berusaha memperbaiki, ketiganya bagi hasil.

Ini semua layaknya membantu Gramedia menghitung laba dari setiap penjualan buku Tan Malaka. Kau tau maksudnya ? Semua bergerak demi satu tujuan, keuntungan.

Saya merasa nihilis sekarang.

"Jangan percaya siapapun di dalam dunia yang dingin ini!"

Rabu, 23 September 2015

Pagi itu papa yang baru dari kantor setelah lembur seharian, heboh seketika, ia membangunkan saya dengan suara lantangnya. Jam alarm yang telah tersetting pukul 7.30 WIB menjadi sia-sia karna akhirnya bangun lebih awal. Kehebohan terjadi lantaran sebuah amplop cokelat yang ditemukannya di lemari kaca. Amplop cokelat dari Yayasan Yap Thiam Hien yang ditujukan untuk saya dan sudah saya ketahui dari lima hari lalu.

"A nanti harus yang rapi. Pake kemeja. Penting nih," serunya. Saya yang masih setengah sadar menjadi bingung dengan maksudnya. "Ini ada undangan!," tegasnya.

Saya tidak pernah merasa mendapat undangan apapun sebelumnya, toh saya pikir jika pun ada paling undangan pernikahan teman dan kenapa papa harus seheboh ini.

"Ini undangan dari Yap Thiam Hien. Udah baca belum ?" tanyanya. Saya sudah tau lebih dulu soal amplop itu tapi perasaan itu hanya surat biasa. Namun setelah saya periksa dan baca kembali ternyata papa benar.

Di dalam amplop tersebut, saya hanya fokus pada sertifikat-nya saja dan tidak pada selembar kertas yang berisi ucapan permohonan maaf yang ternyata sekaligus undangan untuk menghadiri acara Yap Thiam Hien Human Rights Lectures di Aula Gedung Mahkamah Konstitusi.

"Dateng tuh. Penting!" ujarnya kembali.

Saya hanya menanggapi dengan santai karna sudah kepalang membuat janji dengan teman untuk menghadiri screening film tentang Kathleen Hanna di Jakarta. Papa masih heboh sendirian bahkan sampai ke grup keluarga di BBM. "Liat nih aa di undang Todung Lubis," tulisnya sembari menyertakan gambar.

Saya hanya tertawa dalam hati melihat kehebohannya pagi itu. Tidak seperti biasanya, dia seperti ini. Saya cukup senang, karna ini sebagai bentuk apresiasi juga bagi saya.

Namun pada akhirnya saya mengurungkan niat untuk datang karna saya sudah punya janji lebih dulu. Biarlah, ini konsekuensi dari kelalaian saya tidak detail membaca suratnya.

Anyway, saya sudah punya jawaban atas pertanyaan yang saya lontarkan sendiri. Untuk urusan asmara tidak perlu mengantri. Bukan berarti harus menyelak. Karna dia beda dengan bensin atau benda-benda lainnya, dan lagi pula kau tidak sedang berurusan dengan benda. Jika sudah ada seseorang di depan mu, maka biarlah. Lebih baik putar arah kemudi. Kecuali kau ingin menunggu dan berharap keajaiban datang. Tentu kemungkinannya sedikit. Namun jika kau tipikal orang yang berkepala batu dan terlampau yakin, jangan sesekali kau lepas perhatian mu pada nya. Siapa tau kesempatan itu hadir diwaktu yang cepat dan tak terduga, jadi kau bisa persiapkan diri mu segera. Yah, semua tergantung kondisi memang.

Belakangan ini saya senang sekali dengan Kings of Convenience, grup musik Norwegia ini membuat isi kepala saya sedikit lebih tenang.

Selasa, 22 September 2015

Untuk segala hal dalam hidup ini, semuanya perlu mengantri. Aktivitas mengantri terbentuk dalam kondisi di mana semua orang secara tidak terorganisir, bergerak untuk mendapatkan sesuatu yang berharga bagi nya dalam waktu bersamaan. Ketika film A mendadak menjadi box office dan mendapatkan rating tinggi di majalah sinema dunia, otomatis semua orang menjadi penasaran untuk menontonnya dan menyebabkan antrian di loket tiket bioskop akan mengular. Bensin, semua orang butuh itu dan mereka rela berbaris-bergantian untuk mendapatkannya. Hal yang wajar. Sudah seharusnya seperti itu. Bagi yang datang lebih cepat, berhak mendapatkan apa yang diinginkannya lebih dulu. Bagi yang terlambat datang, harap bersabar, tunggu sampai satu persatu orang di depan mu menyelesaikan gilirannya. Yah, hal tersebut normal. Sekali lagi, sudah seharusnya seperti itu. Karna semua orang berhak mendapatkan kesempatannya, yang kita perlukan hanya memberi sedikit ruang untuk toleransi hadir dalam barisan. Pun pada akhirnya nanti, kita akan tiba pada kesempatan yang sama dengan orang-orang yang pernah berdiri menunggu di depan kita untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Tapi bagaimana jika hal tersebut terjadi dalam urusan asmara ?

Entahlah...

Malam ini saya kembali menempatkan repertoir klasik milik Doris Day, Peggy Lee, dan Frank Sinatra sebagai teman membaca sembari menunggu kehadiran nidera. Selasa nanti aktivitas saya lumayan padat, jika telat terpejam barang sedikit maka saya akan berakhir sebagai mayat hidup nantinya: rendah gairah pun menyebalkan. Biarlah jawaban untuk pertanyaan di atas, saya jadikan pekerjaan rumah tambahan.

Senin, 21 September 2015

Saya tertipu oleh mereka, juga oleh stereotip yang dibangun untuk mereka. Yah, Black Sabbath selalu diasosiasikan sebagai band rock/metal yang menyembah setan. Paman saya, seorang penikmat dangdut sejati, pernah bilang bahwa musik metal itu sesat. Oke, mungkin ada metal yang benar begitu karna mengadopsi paham satanisme. Tapi ada juga yang tidak.

Bicara soal Black Sabbath yang mendapatkan label band sesat, awalnya saya mengamininya juga. Terlebih saat band Inggris ini mengeluarkan single 'God is Dead', astaga. Ketika itu saya sudah berada di fase mulai kembali mempercayai kehadiran tuhan namun disisi lain saya penggemar mereka. Lantas saya mulai merasa risih dengan band idola satu ini.

Tapi setelah saya membaca lirik mereka. Ternyata asumsi saya salah besar. Mereka tidak sedang memplokamirkan bahwa tuhan telah mati. Namun sebaliknya, mereka mempertanyakan apakah tuhan sudah mati ? Lalu mereka menjawabnya sendiri dengan berkata bahwa mereka tak percaya bahwa tuhan telah mati.

Pemilihan judul lagu yang kontroversional tersebut, saya taksir adalah akal-akalan produser untuk menarik massa penggemar mereka. Yah, seperti kita tau bahwa penggemar musik metal menyukai sesuatu yang berhubungan dengan ketiadaan agama. Sehingga pemilihan judul memang di setting sebagai umpang untuk menarik keuntungan semata. Tapi jika penafsiran saya itu benar, Black Sabbath telah menjebak banyak metal head yang bangga mengatakan bahwa tuhan telah mati untuk kemudian mempercayai tuhan memang ada dan tak pernah mati.

Sekali lagi, Black Sabbath memang keren. Mereka tau apa yang sedang mereka lakukan.



"Do you believe a word, What the Good Book said? Or is it just a holy fairytale And God is dead ? But still the voices in my head. Are telling me that god is dead. The blood pours down. The rain turns red. I don't believe that God is dead"

Selasa, 15 September 2015

Saya rasa terdapat efek yang tak diperhitungkan dengan membuat REEBS dengan branding characternya yang so called rebel. Beberapa orang mulai mempertemukan pada hal yang sudah saya jauhkan sejak dulu. Mereka pikir, saya senang dengan segala macam substansi tersebut. Tidak! Saya mulai jijik. Sejujurnya saya sudah mulai membenci menjalani hidup dalam kondisi tanpa sadar. Secara sadar saja, saya mabuk kepalang dan semuanya bisa berantakan.

Terdapat mis-persepsi rebel antara saya dan mereka. Rebel saya bukan ala si Rolling Stones sialan itu (walaupun saya suka musik mereka): sex, drugs, and rock n roll. Ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Bahkan saya tak mendukung free sex, konsumsi drugs, meskipun saya menyukai rock n roll.

Saya sudah berjanji untuk tidak bersentuhan dengan substansi apapun kecuali alkohol dalam wujud beer. Itu-pun bukan untuk mabuk sehiingga tidak sadar, tapi pengantar relaksasi. Saya juga kadang membenci minum beer dalam kondisi melankolia, membuat diri ini depresi. Beda jika sedang dalam pesta ulang tahun atau kumpul bersama teman-teman, beer is moodbooster. Yah, sama seperti kalian yang senang terhadap teh ataupun kopi.

Pun saya tak mau lagi mengkonsumsi substansi kimiawi. Persetan! Tanpa itu semua, makanan yang saya telan sudah banyak mengandung kimiawi dan saya tidak mau menambahkannya.

Sabtu, 12 September 2015

Saya tak punya masalah dengan seorang junkie. Persetan stigma masyarakat terhadap mereka, selagi para junkie itu tidak memaksa saya menghisap ganja, mengerus obat dalam kopi yang hendak saya minum, menyuntikan jarum dilengan, dan memaksa saya menghirup serbuk dari hidung, saya tak peduli.

Saya hanya kasian terhadap para junkie yang rela menabung, hemat uang jajan, dan menaham lapar hanya untuk membeli narkotika. Dan, saya tidak akan pernah memberikan sepotong roti sekalipun untuk para junkie seperti itu.
Rasa malas itu datang lagi. Sekarang!

Percayalah ketika malas bertandang dalam jiwa. Ketika itu, semua pandangan menghitam dan ketakutan-ketakutan perlahan berkumpul. Mereka satu koloni yang akan membombardir isi otak. Sial memang! Lebih sial lagi, diri yang tak bisa ambil kendali untuk itu semua. Matilah kita semua!

Kecuali, kau senang menyelam dalam malas. Tentu ini menjadi hal yang mengembirakan.

Kamis, 10 September 2015

Pada satu titik waktu, saya berpikir tentang siapa saya. Kemudian saya mampu menyimpulkan bahwa saya adalah pembenci. Kapan dan dimana-pun saya selalu dihinggapi perasaan benci. Saya berpikir karna saya membenci. Apa yang saya benci ? Banyak.

Saya benci ketika seseorang merasa perlu kebebasan tanpa pernah memikirkan kebebasan orang lain; ketika seseorang mengharapkan belas kasih orang lain untuk suatu tragedi yang diciptakan sendiri; ketika seseorang berteriak hak asasi manusia namun membatasi pilihan orang lain; ketika seseorang punya cukup banyak uang untuk menyingkirkan orang lain; ketika seseorang merasa lebih penting dari orang lain; ketika seseorang ingin dipuja tanpa pernah memuja; ketika seseorang ingin didengar tanpa mau menjadi pendengar; ketika seseorang menolak disebut monyet namun tak manusiawi.

Bahkan saya membenci diri saya sendiri. Karna terlalu membenci. Kenapa saya tidak bersikap biasa saja dengan semua itu. Minimal tidak memikirkannya sama sekali.

Rabu, 09 September 2015

Kenapa semua orang ingin terlihat pintar ?
Lalu, siapa yang tolol ?
Kenapa semua orang merasa penting untuk didengar ?
Lalu, siapa yang mendengar ?
Kenapa semua orang ingin dihormati ?
Lalu, siapa yang menghormati ?
Kenapa semua orang ingin terlihat sempurna ?
Lalu, siapa yang cacat ?
Kenapa semua orang ingin hidup ?
Adakah yang ingin mati ?

Saya akan melengkapi setiap kosongnya peran yang terjadi
Sementara yang lain sibuk berdempul jemawa sebagai tata rias wajahnya
Biarkan saya bergerak lentur nan gemulai diatas panggung tanpa busana



"Show me a sign get back in line
Show me all the tricks that you have learned
Show me some spite and if you do it right
I will show you how to kill and burn"
- Motorhead