Senin, 25 Mei 2015

Yah, tuhan saya benar-benar gelisah melihat semua ini. Segera saja ingin menyelesaikannya namun tak tau bagaimana caranya. Pun saya hanya berharap bisa melihat semua ini berakhir dengan wajah masih mampu tersenyum. Bagaimana tidak, tak satupun yang dapat dipercaya selain diri sendiri. Mau berharap pada siapa ? Pemerintah tentu saja tidak. Gerakan mahasiswa pun, ah sama saja. Karna dua hal tersebut adalah komponen simbiosis mutualisme dalam sirkus kehidupan ini. Dimana orang seperti saya, jelas tidak akan pernah mampu mendapat peran kecuali mencarinya sendiri.

Rasa kagum saya pada Chelsea Islan pun kini memudar sejak ia mau memerankan salah satu tokoh penting dalam film Di Balik 98. Yang mana film tersebut dipuja oleh banyak orang, apalagi mahasiswa sendiri. Saya tak habis pikir kenapa aktris idola saya itu, mau-maunya ikut andil dalam film yang super butut dan hanya mengulang euforia minim esensinya.

Dampak filmnya pun kini menjijikan. Tak sedikit mahasiswa yang selalu bermimpi berada dalam border pergerakan dan ingin merasakan dinamika sosial politik seperti yang terjadi di film tersebut pun tahun 98 itu sendiri. Mereka tenggelam dalam euforia film dan tahun 98 hingga lupa mengkontekstualisasikan apa yang terjadi pada lampau dan hari ini, yang mana jelas berbeda.

Tanggal 20 Mei kemarin saya sengaja ke istana, bukan untuk menjadi bagian mahasiswa. Tapi sebagai jurnalis, karna sensasinya lebih berasa sebagai itu ketimbang yang lain saya pikir. Benar saja, aksi saat itu sepi dan tak lebih dari ajang pamer bendera dari beberapa massa pergerakan saja. Ah, saya semakin muak memikirkan hidup.

Hari ini saya (lagi dan lagi) kurang tidur, nanti harus kuliah. Semoga aktivitas kampus berhasil menyelamatkan saya dari rasa bosan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar