Tulisan perdana di tahun 2015 dan saya sudah kehilangan gairah merayakan tahun baru sejak dua tahun terakhir. Bagi saya hal tersebut konyol: dengan kalap kita berburu terompet, petasan, ayam, jagung, arang, dan bersuka cita berlebih dengan volume maksimal. Kita bersuka cita bersama orang-orang terkasih di rumah atau bahkan di jalan. Saling bersorak ketika waktu dihitung mundur menyambut tahun yang akan datang, dalam hati tersemat sebuah keyakinan bahwa tahun besok harus lebih baik lagi, setelah jam 24.00 lewat semuanya semu. Kita pulang ke rumah dengan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada yang membekas kecuali sisa foto/video yang kau rekam, euforianya menguap entah kemana. Nihil.
Pada pergantian tahun kali ini, untuk pertama kalinya saya ke monas. Saya ke sana untuk melakukan peliputan. Hal yang memicu saya kesana adalah Ahok yang akan berjalan dari HI hingga Monas. Saya menunggu cukup lama untuk menantikan orang satu itu, tak apalah ini untuk tugas dan karnanya sosoknya begitu penting untuk saya kemarin. Namun saya mendapatkan sebuah kenikmatan, handphone saya hilang di copet orang saat saya berdesak-desakan mengambil gambar Gubernur Jakarta tersebut. Naas, handphone satu-satunya raib.
Mengetahui handphone saya raib, saya cuma bisa diam sambil mentertawai diri sendiri. Kesal bukan karna kehilangan, namun karna betapa bodohnya saya tidak mengantisipasi hal ini. Saya tidak bisa marah, lagipula marah untuk kesalahan yang bersumber dari diri sendiri, apa bukan tolol namanya ? Saya hanya bisa menyesalinya lalu mentertawakan diri sendiri. Malam yang konyol.
Untuk beberapa waktu ke depan saya akan hidup tanpa handphone. Semoga hal ini menjadi menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar