Senin, 29 September 2014

Merindukan Nidera

Ia begitu menikmati duduk santai di atas sofa lusuh setengah berdebu, matanya sudah memancarkan kantung layaknya Presiden RI yang sebentar lagi lengser jabatan. Pupilnya tergambar resah, mata memerah bukan efek mariyuana. Kepulan asap mengisi ruang kosong langit dan membantu membentuk awan, ia tak kuasa berhenti menghisap walau dada sudah berdebar. Gelisah, itulah dampaknya. Susu kemasan di konsumsi sebagai penetralisir, yah walau itu ia tau cuma sugesti murahan.

Wajahnya lelah. Rambut gondrong ala Noel replika neraka mulai berminyak. Jerawat siap bergerilya menerobos pori-pori, "Setan! Ia coba unjuk gigi!" komentarnya. Jemari bergetar, bukan tremor. Ia melewati hari-hari yang panjang dan kini ia mulai bersenda gurau, tentang apapun. Namun pada satu titik, ia mulai merindu. Terhadap nidera yang tak juga datang berkunjung. "Aku lelah. Izinkanlah aku tertidur sebentar! Datanglah nidera, aku rindu," ucapnya.

Minggu, 28 September 2014

"Pergi kau! PERGI!!!" teriaknya. Sebuah umpatan yang hanya digelontorkan dalam hati namun tak juga menuai hal sama dalam otak. Ia menghabiskan waktu untuk mengukur ketakutan dalam sebuah harapan yang besar. Kadang ia lelah. Terbaring di atas kasur sembari mendengarkan track favorite dan bersikap seolah-olah biasa saja. Terkadang ia blingsatan, tak karuan. Pikirannya berkecamuk. Apalagi kalau bukan ketakutan itu kembali muncul. Ia lemah namun terlihat kuat. Begitu sebaliknya (kadang).

Matanya merah. Ia menahan ketakutan bahkan melebihi menahan kantuknya sendiri. Dirinya terseret tanpa jeda. Kemanapun angin kencang membawanya. Jelas tubuhnya sudah letih. Namun jemarinya masih asik menyusun aksara. Tembakau pilihan didaulat sebagai substansi yang ditaksir mampu menyelami penderitaannya. Gelisah. Yah, ia begitu gelisah dalam tenang. Namun ia mencoba tenang dalam gelisah.

Ketakutan itu tajam. Hasil peraduan antara asumsi, gejala, dan refleksi diri. Lagi-lagi ia takut tergores. Karna ia tau, jika tergores maka seperti orang yang menderita diabetes akut dan luka akan sulit pulih. Ia duduk (seolah) tenang dalam kegelisahannya. Berdoa agar esok pagi matahari masih berwarna kuning. Jangan jingga.
Lihat ia bingung setengah mati. Namun perhatikan sejenak, seketika tubuh kurusnya terkoyak-koyak, begitu semangat. Perlahan ia mencoba melangkah, ke depan dengan santai. Ia berhenti. Tangannya berkeringat. Menggigit kuku. Kemudian menoleh ke belang. Sorot matanya meneropong seluas yang ia bisa jangkau. Terdiam. Indera penglihatannya menangkap potongan bambu dari gubuk renta yang ia tinggalkan karna sudah jengah menghadapi problem. Mulai dari bocornya atap gubuk di kala hujan, jika angin menerpa maka gubuk reot itu gontai. Ia kembali membalikan kepala serta pandangannya, menatap jauh ke depan. Ia masih bingung setengah mampus. Langkah kecil menyertainya.

Dan aku melihat diri ku dari belakang.

Sabtu, 27 September 2014

Semakin hari semakin kami semua dibuat layaknya boneka. Dengan bebas mereka membawa kami ke kanan dan ke kiri. Meski kami menolak, mereka menyuguhkan kami dengan seantero fantasi manis. Hingga pada akhirnya di antara kami terpecah, sebagian terbawa ke kanan dan sebagian lagi ke kiri. Sedangkan kami yang berada di tengah, tak henti menahan perihnya terombang ambing.

Sebagian dari kami yang terpisah, kemudian saling tak bersentuhan. Tercerai. Berai. Mereka sukses membuat koridor pemisah di antara kami semua. Berada di tengah tak jua nyaman. Posisi tersebut membuat kami harus pasang badan dan pikiran yang jernih nan merdeka. Salah perhitungan langkah sedikit saja, kami akan segera terhisap; entah ke kanan atau ke kiri.

Entahlah bagaimana nasib kami semua di kemudian hari. Sampai kapan pun kami akan tetap menjadi boneka. Sekarang saja kami bisa tercecer seperti sekarang ini. Aku hanya terdiam, tak henti menghela nafas panjang, berdoa, dan selalu meminta pada tuhan untuk selalu di berikan semangat untuk berfikir jernih nan manusiawi. Tak ada yang dapat aku percaya, selain diri ku sendiri. Situasi seperti ini bagai berjalan di tengah-tengah perkebunan salak yang rindang.

Jika memang mitos mengenai hancurnya Atlantis di karenakan sikap mereka yang angkuh, aku prediksi bahwa hal itu akan kembali terulang saat ini.

Senin, 22 September 2014

Aku selalu membayangkan sebuah identitas baru. Dimana yang pernah aku lalui takkan mampuh menjamah ku lagi. Semua kehidupan dimulai seperti pertama kali keluar lubang vagina. Hijrah kesebuah tempat yang jauh dari hingar bingar kendaraan, lampu kota, gedung beton yang tinggi, langit kelabu efek knalpot, dan segala tektek bengek yang membuat paruh ini sesak. Berdiam diri ditengah rimbunnya pepohonan, jika panas terlindung, jika dingin datang mari mulai perapian. Menghabiskan hari-hari dengan lincah namun tidak tergesah-gesah. Santai bercerita sembari menikmati teh ataupun kopi, beer juga boleh. Dengan seseorang yang fokus terhadap kita tanpa membagi perhatian terhadap apapun kecuali cerita kita. Sambil bergantian mendengarkan cerita. Tak perlu menjadi guru. Cukup menjadi pendengar yang baik. Sembari ditemani suara ranting pepohonan dan juga alunan musik yang sama-sama kita sepaki untuk di dengar. Dan Mengakhiri malam dengan bercinta tanpa harus meminta ataupun memaksa.

Merasakan terbangun oleh tajamnya sinar matahari yang mencuri celah melalui lubang ventilasi. Tak pernah ragu untuk menarik nafas dalam dan berulang-ulang. Saling berbagi senyuman walau nafas belum terjamah pepsodent. Kemudian saling berpelukan sebagai tanda syukur tanpa peduli apakah kau sudah pakai deodorant atau belum. Saling membasuh bagian belakang tubuh dengan air yang segar. Bergegas keluar rumah untuk bertamasya kesekeliling rumah. Jika bosan melanda, saling menikmatinya berdua. Jika bosan menikmati bosan, berdua mencari cara menumpas kebosanan. Tak peduli siapa yang lebih dulu mengambil inisiatif, asal tercapai kebahagian berdua, maka laksanakanlah segera tanpa pamrih.

Faktanya, setiap pagi hari aku masih terbangun menjadi bagian dari masyarakat idustri. Segala imaji adalah hal terpenting dari sekedar esensi. Materi menghilangkan kasih sayang dan logika. Kemewahan dalam bentuk apapun menjadi parameter kebahagiaan. Berkunjung ke convenience/departemen store dan pulang membawa banyak kantong belanja adalah sebuah kebanggan. Semu. Hahaha... Inilah kehidupan ku yang nyata.

Rabu, 17 September 2014

Keluarga adalah alasan utama untuk kau pulang dari perjalanan yang lama nan jauh. Keluarga adalah alasan kau bertahan hidup dalam rasa sakit mu. Keluarga adalah pematik semangat mu ketika dunia dan sejuta sistemnya yang tak masuk akal menekan jiwa mu. Keluarga adalah atap paling kokoh yang mungkin sempat kita tak sadari. Keluarga takkan pernah kemana, mereka selalu mendekap dalam pikiran dan hati kita.