Jumat, 20 Maret 2015
Mimpi buruk paling mengerikan yang pernah saya alami adalah ketika saya bermimpi tentang semesta yang berubah drastis. Ketika negeri hebat ini mencapai titik post-modernisme, sehingga hal-hal yang dulu hanya sebatas khayalan lalu menjadi kenyataan, hal-hal yang hanya kita saksikan di serial kartun pun jadi kenyataan. Lalu semua kosmos menjadi hologram.
Rabu, 18 Maret 2015
Terlalu mudah membuat janji dan sulit menolak tawaran orang terkadang mengantarkan kita pada lobang penuh kekecewaan. Bukan kita yang kecewa tapi orang lain. Terlebih lagi apabila kita membuat janji tanpa memikirkan akurasi waktu yang dimiliki. Bukan saja merugikan orang lain, juga diri sendiri.
Kiranya begitulah saya. Hanya karna tak bisa menolak tawaran orang karna nggak enak hati, apalagi kalau yang sifatnya 'bantuan', jika ditolak takutnya dibilang ga peduli, sok sibuk, dan sejenisnya. Saya sering kali membatalkan janji dengan orang lain karna tiba-tiba teringat bahwa sebelumnya sudah mempunyai janji dengan orang lain. Tentu hal seperti itu menimbulkan perspektif buruk pada diri saya. Di labeli 'banyak alasan' pun sepertinya sering. Padahal awalnya saya menerima tawaran seseorang dengan maksud untuk menghargai silahturami, namun berkat kelalaian saya dalam mengatur waktu pun yang pada akhirnya menyesatkan diri sendiri.
Sepertinya saya masih menjangkit sindrom 'takut dibenci', hal yang sudah 5 tahun terakhir ini coba saya lawan. Terlalu arogan apabila saya menginginkan untuk selalu disukai banyak orang karna tak pernah mengecewakan mereka. Faktanya ? yah seperti ini. Mudah bikin janji, mudah pula membatalkan.
Belajar untuk menolak tawaran seseorang itu penting. Kita perlu sadar bahwa kita bukanlah superman yang bisa melakukan/berada dimana-mana dalam satu kesempatan atau jenjang waktu yang tak jauh berbeda. Terlebih lagi, kita perlu sadar dengan porsi waktu yang kita miliki. Tidak semua hal bisa dijadikan prioritas dalam waktu bersamaan. Terlepas orang tersebut kecewa dan menganggap kita tak peduli, tak setia kawan, atau apalah, itu urusan belakangan. Bisa juga orang tersebut kita berikan pengertian yang konkrit.
Sadar kemampuan, itu poin pentingnya.
Kiranya begitulah saya. Hanya karna tak bisa menolak tawaran orang karna nggak enak hati, apalagi kalau yang sifatnya 'bantuan', jika ditolak takutnya dibilang ga peduli, sok sibuk, dan sejenisnya. Saya sering kali membatalkan janji dengan orang lain karna tiba-tiba teringat bahwa sebelumnya sudah mempunyai janji dengan orang lain. Tentu hal seperti itu menimbulkan perspektif buruk pada diri saya. Di labeli 'banyak alasan' pun sepertinya sering. Padahal awalnya saya menerima tawaran seseorang dengan maksud untuk menghargai silahturami, namun berkat kelalaian saya dalam mengatur waktu pun yang pada akhirnya menyesatkan diri sendiri.
Sepertinya saya masih menjangkit sindrom 'takut dibenci', hal yang sudah 5 tahun terakhir ini coba saya lawan. Terlalu arogan apabila saya menginginkan untuk selalu disukai banyak orang karna tak pernah mengecewakan mereka. Faktanya ? yah seperti ini. Mudah bikin janji, mudah pula membatalkan.
Belajar untuk menolak tawaran seseorang itu penting. Kita perlu sadar bahwa kita bukanlah superman yang bisa melakukan/berada dimana-mana dalam satu kesempatan atau jenjang waktu yang tak jauh berbeda. Terlebih lagi, kita perlu sadar dengan porsi waktu yang kita miliki. Tidak semua hal bisa dijadikan prioritas dalam waktu bersamaan. Terlepas orang tersebut kecewa dan menganggap kita tak peduli, tak setia kawan, atau apalah, itu urusan belakangan. Bisa juga orang tersebut kita berikan pengertian yang konkrit.
Sadar kemampuan, itu poin pentingnya.
Selasa, 17 Maret 2015
Sepertinya otak saya jebol. Tidak ada waktu sebentar untuk rehat kecuali sedang tertidur. Selama hampir 24 jam, otak saya bekerja untuk bermacam-macam hal yang berbeda. Jika dirumah, saya akan berpikir tentang bagaimana bertahan hidup hari ini dan besok dan belum lagi tentang manajemen waktu untuk bebenah rumah. Dikampus otak saya terbagi dua: Aspirasi dan Fakultas, keduanya punya porsi yang sama-sama menguras otak. Diluar rumah dan kampus saya punya sederet hal mulai dari band, label records, dan webzine yang harus dipikirkan juga. Otak saya terus bekerja hingga lelah. Tak jarang saya menjadi blank seketika.
Kata 'santai' akan semakin jauh dari saya. Jadwal kuliah semester ini terpaksa tidak menggunakan metode 'settingan holiday' lagi. Dalam seminggu saya cuma punya 3 hari libur (ini bisa jadi tak libur, tergantung kondisi di Aspirasi). Tamatlah saya.
Mungkin kalau Mama di Depok, semuanya bisa jadi lebih ringan, setidaknya begitu. Saya tidak akan pusing-pusing lagi memikirkan makan apa setiap harinya karna pasti sudah tersedia dan tidak perlu lagi mencarinya terlebih dahulu. Tidak pusing lagi soal pakaian kotor yang menumpuk. Pulang kuliah langsung makan. Apalagi kalau lagi sakit, gak perlu repot ke kontrakan minta kerokin sama Iyoung atau nunggu Papa pulang kerja dulu karna Mama pasti standby di rumah. Ah kadang rindu hal-hal manja seperti itu.
Kata 'santai' akan semakin jauh dari saya. Jadwal kuliah semester ini terpaksa tidak menggunakan metode 'settingan holiday' lagi. Dalam seminggu saya cuma punya 3 hari libur (ini bisa jadi tak libur, tergantung kondisi di Aspirasi). Tamatlah saya.
Mungkin kalau Mama di Depok, semuanya bisa jadi lebih ringan, setidaknya begitu. Saya tidak akan pusing-pusing lagi memikirkan makan apa setiap harinya karna pasti sudah tersedia dan tidak perlu lagi mencarinya terlebih dahulu. Tidak pusing lagi soal pakaian kotor yang menumpuk. Pulang kuliah langsung makan. Apalagi kalau lagi sakit, gak perlu repot ke kontrakan minta kerokin sama Iyoung atau nunggu Papa pulang kerja dulu karna Mama pasti standby di rumah. Ah kadang rindu hal-hal manja seperti itu.
Senin, 09 Maret 2015
Tanpa disadari selama ini, dari sekian banyaknya keluhan saya terhadap kehidupan fana ini. Ternyata banyak manfaat yang telah saya terima. Pertama, saya cukup beruntung semenjak SMP bahkan hingga kini selalu berada ditengah lingkaran orang-orang (yang mungkin bisa disebut) nakal dan (yang mungkin bisa disebut) tidak nakal, -walaupun saya cukup meragukan definisi nakal dan tidak nakal pada umumnya karna relatif sekali bagi saya. Berada dalam lingkaran dua arus tersebut tanpa pernah menjadi bagian daripadanya membuat pola pikir saya selalu mengacu dari dua perspektif untuk memandang dunia ini. Saya ibaratkan diri saya minyak dan dua arus tersebut adalah air soda dan air sirup. Kalian bisa gambarkan, bukan ?
Tadi tanpa terprediksi, Ita cerita soal adik cowonya. Mendengarkannya membuat saya flashback kebeberapa nama teman yang ada dalam hidup saya dan juga mempunyai korelasi sifat-prilaku dengan adiknya. Seorang lelaki, bagi saya, tidak bisa disebut nakal apabila hanya dilihat dari prilakunya yang merokok, mengkonsumsi alkohol, narkoba, dan ber-tatto. Tapi anak itu bisa dikatakan nakal apabila sudah merugikan orang lain atas apa yang sudah dilakukannya. Saya selalu punya prinsip seperti ini, okelah saya memang kecanduan tembakau, saya peminum alkohol (walau saya cukup selektif memilihnya), tapi tidak untuk narkotika (alasannya karna kimia sedangkan tanpa narkotika secara sadar atau tidak sudah banyak kimiawi dalam tubuh ini), namun bukan berarti dengan hal-hal tersebut lantas membuat saya bertingkah konyol hingga merugikan orang lain. Saya selalu tanamkan, seberapa mabuk diri ini maka disitu pula akal sehat saya harus tetap sadar.
Namun adiknya ini (dengan amat sangat hati-hati) bisa saya katakan nakal. Terlepas dari substansi apapun yang ia konsumsi, ada hal yang mengarahkan saya untuk melabeling nya dengan sebutan nakal: merugikan orang tua. Saya masih ingat ketika masih SMP dulu, entah karna sebab apa saya bertengkar dengan mama hingga dia menangis. Baru kali itu selama hidup saya membuat mama menangis. Lalu apa yang saya rasakan adalah penyesalan dan rasa durhaka yang amat sangat. Sejak saat itu saya berusaha untuk menjaga hati dan pikirannya, tak mau lagi membuatnya menangis dan mudah-mudahan hingga detik ini pun demikian.
Orang tua bagaimana pun kerasnya tetap orang tua bagi saya. Papa adalah orang yang amat sangat saya benci, terlebih prilaku masa silamnya yang tak bisa ditoleransi. Sempat saya menegasikan perannya sebagai panutan keluarga, dalam arti saya malas mendengarkan nasehatnya dan selalu membantah perintahnya, walau kadang saya yang salah. Namun semakin kesini, saya sadar, terlebih setelah pada momen tertentu saya melihatnya tak mempunyai peran atas keberadaan saya. Perasaan sedih, bagaimana bisa seorang kepala keluarga bisa kelihatan lemah. Saya akui, tak bisa selamanya terus berkutat pada kesalahan masa lalu. Maka saya pun mulai memaafkannya secara perlahan. Hingga pada akhirnya hubungan kami membaik bahkan lebih dari sekedar anak-orang tua, kami seperti teman. Saya selalu terima dimarahi sebagaimanapun marahnya dia apabila saya memang salah dan dia pun menerima kesalahannya apabila saya mulai kritik. Kami saling koreksi kemudian intospeksi.
Sejak saat itu-lah, saya tidak pernah terganggu dengan hal apapun kecuali mereka yang merugikan orang lain khususnya orang tuanya sendiri. Rasanya ingin sekali saya rajam. Berlebihan memang. Orang tua bukanlah makhluk yang sempurna dan tak bisa salah juga, maka terus-terusan membentuk sikap opsisi dengannya adalah sebuah kesalahan. Kalimat "saling memaafkan" itu memang ajaib.
Kedua, sekarang saya merasa beruntung dipertemukan teman-teman yang tidak memiliki dosis tinggi dalam mengkonsumsi alkohol. Dosis tinggi adalah perasaan yang tak bisa dibendung lagi untuk mengkonsumsi alkohol. Bagaimanapun caranya harus mengkonsumsinya. Nah, beruntung teman-teman saya tidak seperti itu. Kami melihat alkohol sebagai sebuah kebutuhan, jika kami rasa momennya tepat maka akan kami konsumsi sebijak mungkin.
Darisitulah saya kadang merasa heran dengan orang-orang yang tak bisa menjalani hidup secara sadar. Karna sebagian waktunya dipakai untuk mengkonsumsi substansi yang mengakibatkannya ia bergerak dalam alam bawah sadar. Bahkan bukan lagi heran, jika bertemu dengan orang-orang seperti itu kadang saya selalu tertawa terbahak-bahak dalam hati. Tidak mengkonsumsi sebentar selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya, tak peduli waktunya tepat atau tidak. Seperti diperbudak alkohol dan narkotika. Menyedihkan. Hidup ini terlalu singkat untuk dinikmati dalam kondisi mengawang.
Tadi tanpa terprediksi, Ita cerita soal adik cowonya. Mendengarkannya membuat saya flashback kebeberapa nama teman yang ada dalam hidup saya dan juga mempunyai korelasi sifat-prilaku dengan adiknya. Seorang lelaki, bagi saya, tidak bisa disebut nakal apabila hanya dilihat dari prilakunya yang merokok, mengkonsumsi alkohol, narkoba, dan ber-tatto. Tapi anak itu bisa dikatakan nakal apabila sudah merugikan orang lain atas apa yang sudah dilakukannya. Saya selalu punya prinsip seperti ini, okelah saya memang kecanduan tembakau, saya peminum alkohol (walau saya cukup selektif memilihnya), tapi tidak untuk narkotika (alasannya karna kimia sedangkan tanpa narkotika secara sadar atau tidak sudah banyak kimiawi dalam tubuh ini), namun bukan berarti dengan hal-hal tersebut lantas membuat saya bertingkah konyol hingga merugikan orang lain. Saya selalu tanamkan, seberapa mabuk diri ini maka disitu pula akal sehat saya harus tetap sadar.
Namun adiknya ini (dengan amat sangat hati-hati) bisa saya katakan nakal. Terlepas dari substansi apapun yang ia konsumsi, ada hal yang mengarahkan saya untuk melabeling nya dengan sebutan nakal: merugikan orang tua. Saya masih ingat ketika masih SMP dulu, entah karna sebab apa saya bertengkar dengan mama hingga dia menangis. Baru kali itu selama hidup saya membuat mama menangis. Lalu apa yang saya rasakan adalah penyesalan dan rasa durhaka yang amat sangat. Sejak saat itu saya berusaha untuk menjaga hati dan pikirannya, tak mau lagi membuatnya menangis dan mudah-mudahan hingga detik ini pun demikian.
Orang tua bagaimana pun kerasnya tetap orang tua bagi saya. Papa adalah orang yang amat sangat saya benci, terlebih prilaku masa silamnya yang tak bisa ditoleransi. Sempat saya menegasikan perannya sebagai panutan keluarga, dalam arti saya malas mendengarkan nasehatnya dan selalu membantah perintahnya, walau kadang saya yang salah. Namun semakin kesini, saya sadar, terlebih setelah pada momen tertentu saya melihatnya tak mempunyai peran atas keberadaan saya. Perasaan sedih, bagaimana bisa seorang kepala keluarga bisa kelihatan lemah. Saya akui, tak bisa selamanya terus berkutat pada kesalahan masa lalu. Maka saya pun mulai memaafkannya secara perlahan. Hingga pada akhirnya hubungan kami membaik bahkan lebih dari sekedar anak-orang tua, kami seperti teman. Saya selalu terima dimarahi sebagaimanapun marahnya dia apabila saya memang salah dan dia pun menerima kesalahannya apabila saya mulai kritik. Kami saling koreksi kemudian intospeksi.
Sejak saat itu-lah, saya tidak pernah terganggu dengan hal apapun kecuali mereka yang merugikan orang lain khususnya orang tuanya sendiri. Rasanya ingin sekali saya rajam. Berlebihan memang. Orang tua bukanlah makhluk yang sempurna dan tak bisa salah juga, maka terus-terusan membentuk sikap opsisi dengannya adalah sebuah kesalahan. Kalimat "saling memaafkan" itu memang ajaib.
Kedua, sekarang saya merasa beruntung dipertemukan teman-teman yang tidak memiliki dosis tinggi dalam mengkonsumsi alkohol. Dosis tinggi adalah perasaan yang tak bisa dibendung lagi untuk mengkonsumsi alkohol. Bagaimanapun caranya harus mengkonsumsinya. Nah, beruntung teman-teman saya tidak seperti itu. Kami melihat alkohol sebagai sebuah kebutuhan, jika kami rasa momennya tepat maka akan kami konsumsi sebijak mungkin.
Darisitulah saya kadang merasa heran dengan orang-orang yang tak bisa menjalani hidup secara sadar. Karna sebagian waktunya dipakai untuk mengkonsumsi substansi yang mengakibatkannya ia bergerak dalam alam bawah sadar. Bahkan bukan lagi heran, jika bertemu dengan orang-orang seperti itu kadang saya selalu tertawa terbahak-bahak dalam hati. Tidak mengkonsumsi sebentar selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya, tak peduli waktunya tepat atau tidak. Seperti diperbudak alkohol dan narkotika. Menyedihkan. Hidup ini terlalu singkat untuk dinikmati dalam kondisi mengawang.
Selasa, 03 Maret 2015
Saya gak pernah habis pikir dengan dosen-dosen yang memberikan tugas makalah plus harus dipersentasikan pada awal-awal masa belajar mengajar. Mahasiswa belum dikasih pembekalan apa-apa terhadap mata kuliahnya, tau-tau dipaksa membuat makalah. Dengan enaknya, si dosen cuma memberikan rekomendasi bacaan, ah kalau begini buat apa saya bayar sks. Toh sama saja bertanya dengan mbah google.
Saya pikir dosen macam ini adalah tipe yang picik dan tentunya malas. Ini akal-akalan si dosen, agar kinerja mengajarnya menjadi lebih praktis karna semuanya harus disampaikan oleh si mahasiswanya. Paling banter, dosen menambahkan sedikit setelah si mahasiswa selesai presentasi. Konyol.
Untuk menghadapai dosen macam ini, saya paling malas untuk bersungguh-sungguh. Mending copas dari internet saja. Ngapain cape-cape mikir, saya yakin si dosennya pun hanya modal hapalan dan gak benar-benar ahli dalam bidangnya. Dosen macam ini tidak sedikit jumlahnya di kampus hijau ini. Menyedihkan menjadi mereka. Figur yang tak patut dicontoh.
Lain hal dengan dosen-dosen yang memang ahli dalam bidangnya. Saya selalu suka walaupun kadang banyak teman saya yang malah tidak suka, saya heran. Tipe dosennya asik, mereka menjelaskan dengan gamblangnya apalagi jika disertakan dengan pengalamannya, saya suka, seperti didongenin saja rasanya. Baru setelah itu tugas merendeng, tak soal bagi saya. Disitu lah kesungguh-sungguhan saya diuji. Karna saya tidak mau terlihat cacat dimata seorang ahli.
Saya pikir dosen macam ini adalah tipe yang picik dan tentunya malas. Ini akal-akalan si dosen, agar kinerja mengajarnya menjadi lebih praktis karna semuanya harus disampaikan oleh si mahasiswanya. Paling banter, dosen menambahkan sedikit setelah si mahasiswa selesai presentasi. Konyol.
Untuk menghadapai dosen macam ini, saya paling malas untuk bersungguh-sungguh. Mending copas dari internet saja. Ngapain cape-cape mikir, saya yakin si dosennya pun hanya modal hapalan dan gak benar-benar ahli dalam bidangnya. Dosen macam ini tidak sedikit jumlahnya di kampus hijau ini. Menyedihkan menjadi mereka. Figur yang tak patut dicontoh.
Lain hal dengan dosen-dosen yang memang ahli dalam bidangnya. Saya selalu suka walaupun kadang banyak teman saya yang malah tidak suka, saya heran. Tipe dosennya asik, mereka menjelaskan dengan gamblangnya apalagi jika disertakan dengan pengalamannya, saya suka, seperti didongenin saja rasanya. Baru setelah itu tugas merendeng, tak soal bagi saya. Disitu lah kesungguh-sungguhan saya diuji. Karna saya tidak mau terlihat cacat dimata seorang ahli.
Langganan:
Postingan (Atom)