Tadi siang saya berjumpa dengan Bapak Ali Zaidan, dalam rangka diskusi mengenai cyberbullying di kampus. Kebetulan saya bertindak sebagai moderator dan beliau sebagai pembicara dari aspek hukum. Sebelum naik panggung, kami berbincang cukup ulet mengenai materi yang hendak beliau paparkan. Namun dari satu titik yakni cyberbullying mendadak menjalar kemana-mana.
"Sebetulnya cyberbullying atau cybercrime itu sendiri tidak selalu mendatangkan kerugian, ada juga yang mendatangkan untung," ujar beliau. Saya pun terperangah mendengarnya. Menurut beliau kerugian dari praktik cyberbullying/cybercrime itu hanya terjadi pada masyarakat biasa. Namun jika terjadi pada publik figur itu justru menjadi keuntungan. Coba lihat saja beberapa artis yang di bully masyarakat tiba-tiba mendapat banyak job tampil setelahnya. Saya pun mengamini, para selebritis macam Ariel yang sempat dicekal akibat tindak videonya seketika menjadi banjir job manggung bagi bandnya, Vicky P. dengan bahasa super intelektualnya yang sempat dicibir masyarakat pun kini menjadi banjir job, dsb. "Saya juga gak tau mereka menyadari hal ini atau memang itu sudah di setting demikian," paparnya. "Tapi sepertinya mereka memang sudah tau betul cara menggunakan media, sehingga hal ini bisa jadi sudah disadarinya."
Saya pun menimpalinya, menurut saya pun memang begitu. Saya pikir dalam dunia hiburan, hal tersebut bisa disebut dengan gimmick. Memang kadang gimmick ada yang biasa dan juga kadang ada yang sensasional bahkan kontroversional.
Hal serupa yang, menurut beliau, diterapkan oleh politisi di Indonesia. Ia menyebutkan salah dua nama mantan presiden RI, yang menggunakan metode ini untuk meraih simpati rakyat. Hemat beliau, di Indonesia itu mudah untuk menjaring simpati orang lain, caranya dengan membuatnya si subjek terlihat iba.
Mendengarnya saya tertawa, "Kalau begitu seharusnya di fakultas saya ada mata kuliah Teori Iba yah, pak ?" beliau hanya tertawa sembari menepuk pundak saya. "Mungkin itu perlu haha."
Dari hasil perbincangan singkat dengan beliau yang seorang dosen hukum pidana, saya menjadi yakin bahwa setiap konflik bisa dipermainkan. "Kalau kamu pintar memainkan konflik, kamu bisa menang," tandasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar