Benar menjadi pelajaran bahwa dalam hidup ada baiknya jauhi lah orang-orang yang suka menyebarkan kebencian terhadap suatu individu ataupun kelompok yang sifatnya horizontal. Karena dalam beberapa tahun terakhir saya selalu bertemu dengan tipikal orang seperti ini, tidak hanya sekali. Mereka datang pada saya menceritakan keburukan seseorang, seolah-olah sedang mengajak saya untuk turut merasakan kebencian yang ia rasakan. Namun pada kenyataannya, mereka selalu bersama dengan orang-orang yang mereka ceritakan keburukannya lalu pergi meninggalkan saya begitu saja. Saya tidak menyukai tipikal orang seperti ini. Mereka parasit. Energinya negatif sekali.
Saya hanya punya satu kebencian tapi bukan untuk mereka yang berada dalam garis horizontal, karena indikator bencinya pun kadang relatif, jadi tidak terlalu penting untuk dibahas. Lain hal dengan kebencian saya pada mereka yang berada garis vertikal, karena di sana di huni sama individu yang korup dan tamak.
Senin, 22 Februari 2016
Minggu, 21 Februari 2016
Saya gak habis pikir dengan scene hardcore punk di luar sana, khususnya Amerika Serikat. Mereka benar-benar bisa menjadi sebuah idustri kreatif yang hidup sekali tanpapun membuang karakter masing-masing pelakunya. Memang perlu diakui bahwa mereka di Amerika Serikat sudah lebih maju dalam berbagai hal. Bayangkan saja seukuran band punk dan hardcore sudah bisa menghasilkan film dokumenter yang ditonton secara masif oleh berbagai orang dibelahan dunia, belum lagi mereka berani mempublikasikan buku biografi, dan belum lagi album mereka yang masih terus diburu. Apalagi para pioner hardcore punk di sana, seperti Ramones, Misfits, DK, Minor Threat, Bad Brain, Bad Religion, dll. Dari era 80-an sampai sekarang rilisan album pertamanya masih diburu. Bahkan seorang Ian Mackey sang vokalis Minor Threat termasuk dalam daftar punker terkaya di dunia dengan label rekaman Dischord Recordsnya. Itu gila. Mereka bisa hidup dalam scene bawah tanah ini secara konsisten tanpa terkesan berkompromi terhadap sistem arus utama.
Yang membuat saya gila adalah, belum lama ini membaca sebuah tayangan hiburan yang berisi candaan para pelaku scene di sana yang terdiri dari Ian Mackey sendiri, Henry Rollins, Keith Morris, Jello Biafra, dan beberapa lagi, yang mengkomentari mantan vokalis Misfits Glenn Danzig. Saya hanya membacanya melalui salah satu mportal berita luar memang, namun saya taksir itu jika di Indonesia serupa acara infotaiment di televisi nasional. Jika bisa dibilang, menyerupai program Trans Tv yakni Rumpi. Cek linknya di sini: http://thehardtimes.net/2015/03/30/recap-comedy-centrals-roast-of-glenn-danzig/.
Benar-benar hidup scene di sana. Mereka bisa menjadi tandingan untuk budaya arus utama. Mereka mampu hidup dalam dunia yang beragam ini namun tidak membuang jiwanya sama sekali, mereka tau di mana mereka mampu melangkah. Pun sepertinya di luar sana, semua orang bisa hidup demikian, siapapun itu bisa berjalan di jalurnya masing-masing.
Entah mereka semua menghabiskan seluruh waktunya untuk berada di scene ini atau mereka juga bekerja sebagai pegawai di salah sau korporat seperti kebanyakan punker di Indonesia. Di sini, kita bisa sekeras, semandiri mungkin ketika berlabel punk. Namun sehari-hari, kita adalah pegawai korporat. Mungkin hanya band-band seperti Superman is Dead, Endank Soekamtie, Marjinal, atau Shaggy Dog yang sepertinya tidak demikian. Mereka dengan sudah banyaknya basis penggemar di mana-mana dan jadwal manggung yang intens, sepertinya sudah bisa melangkah bebas di jalur ini. Ini baru hipotesis saya saja.
Saya sendiri bisa dibilang terpengaruh dengan budaya scene hardcore punk di Amerika Serikat sana. Saya mendambakan dengan menjalankan media Lemarikota bisa menggantungkan hidup di sini, seperti Maximum Rock N' Roll. Saya mendambakan teman-teman saya yang memiliki band bagus bisa punya waktu lebih untuk fokus dibandnya: rilis album, membuat launching party, dan touring. Tapi tidak semudah itu. Banyak hal yang perlu dibenahi. Namun saya selalu iri dengan sistem kerja band-band indie di sini, seperti White Shoes, ERK, Dialog Dini Hari, Mocca, dan The Sigit yang memiliki indikasi seperti band-band punk hardcore di Amerika Serikat terutama dalam bentuk management dan promotionnya.
Saya sering mengutarakan ini kebeberapa orang dari dulu hingga sekarang, mungkin sebagian dari mereka mengira ide ini gila dan utopis tapi entah kenapa saya masih percaya. Jika kita membenci sebuah sistem kerja formal, kenapa kita tidak bisa bekerja untuk apa yang memang benar-benar kita cintai namun dengan sistem yang lebih lentur dan tidak kaku seperti sistem kerja korporat pada umumnya.
Sejujurnya sebagai calon sarjana, saya sedang gelisah dengan langkah apa yang seharusnya nanti diambil. Sebetulnya saya tidak memiliki keinginan untuk bekerja di perusahaan, memang upahnya pasti setiap bulan dapat tapi pasti ada satu yang saya buang begitu saja dari masa muda ini yaitu mimpi-mimpi yang saya lontarkan saat ini. Dengan begitu saya merasa sedang buang waktu di masa muda: berpikir dan bermimpi. Namun ketika massanya tiba, saya malah mengkubur itu semua dan berkompromi pada orang lain. Satu sisi saya ingin sekali sehabis wisuda nanti fokus dengan mimpi-mimpi saya. Mungkin bisa saja begitu, tapi bagaimana dengan calon pendamping hidup saya nanti. Semoga saja apapun keputusannya, dia adalah orang yang mampu memahami tanpa menghakimi setiap pilihan saya.
Yang membuat saya gila adalah, belum lama ini membaca sebuah tayangan hiburan yang berisi candaan para pelaku scene di sana yang terdiri dari Ian Mackey sendiri, Henry Rollins, Keith Morris, Jello Biafra, dan beberapa lagi, yang mengkomentari mantan vokalis Misfits Glenn Danzig. Saya hanya membacanya melalui salah satu mportal berita luar memang, namun saya taksir itu jika di Indonesia serupa acara infotaiment di televisi nasional. Jika bisa dibilang, menyerupai program Trans Tv yakni Rumpi. Cek linknya di sini: http://thehardtimes.net/2015/03/30/recap-comedy-centrals-roast-of-glenn-danzig/.
Benar-benar hidup scene di sana. Mereka bisa menjadi tandingan untuk budaya arus utama. Mereka mampu hidup dalam dunia yang beragam ini namun tidak membuang jiwanya sama sekali, mereka tau di mana mereka mampu melangkah. Pun sepertinya di luar sana, semua orang bisa hidup demikian, siapapun itu bisa berjalan di jalurnya masing-masing.
Entah mereka semua menghabiskan seluruh waktunya untuk berada di scene ini atau mereka juga bekerja sebagai pegawai di salah sau korporat seperti kebanyakan punker di Indonesia. Di sini, kita bisa sekeras, semandiri mungkin ketika berlabel punk. Namun sehari-hari, kita adalah pegawai korporat. Mungkin hanya band-band seperti Superman is Dead, Endank Soekamtie, Marjinal, atau Shaggy Dog yang sepertinya tidak demikian. Mereka dengan sudah banyaknya basis penggemar di mana-mana dan jadwal manggung yang intens, sepertinya sudah bisa melangkah bebas di jalur ini. Ini baru hipotesis saya saja.
Saya sendiri bisa dibilang terpengaruh dengan budaya scene hardcore punk di Amerika Serikat sana. Saya mendambakan dengan menjalankan media Lemarikota bisa menggantungkan hidup di sini, seperti Maximum Rock N' Roll. Saya mendambakan teman-teman saya yang memiliki band bagus bisa punya waktu lebih untuk fokus dibandnya: rilis album, membuat launching party, dan touring. Tapi tidak semudah itu. Banyak hal yang perlu dibenahi. Namun saya selalu iri dengan sistem kerja band-band indie di sini, seperti White Shoes, ERK, Dialog Dini Hari, Mocca, dan The Sigit yang memiliki indikasi seperti band-band punk hardcore di Amerika Serikat terutama dalam bentuk management dan promotionnya.
Saya sering mengutarakan ini kebeberapa orang dari dulu hingga sekarang, mungkin sebagian dari mereka mengira ide ini gila dan utopis tapi entah kenapa saya masih percaya. Jika kita membenci sebuah sistem kerja formal, kenapa kita tidak bisa bekerja untuk apa yang memang benar-benar kita cintai namun dengan sistem yang lebih lentur dan tidak kaku seperti sistem kerja korporat pada umumnya.
Sejujurnya sebagai calon sarjana, saya sedang gelisah dengan langkah apa yang seharusnya nanti diambil. Sebetulnya saya tidak memiliki keinginan untuk bekerja di perusahaan, memang upahnya pasti setiap bulan dapat tapi pasti ada satu yang saya buang begitu saja dari masa muda ini yaitu mimpi-mimpi yang saya lontarkan saat ini. Dengan begitu saya merasa sedang buang waktu di masa muda: berpikir dan bermimpi. Namun ketika massanya tiba, saya malah mengkubur itu semua dan berkompromi pada orang lain. Satu sisi saya ingin sekali sehabis wisuda nanti fokus dengan mimpi-mimpi saya. Mungkin bisa saja begitu, tapi bagaimana dengan calon pendamping hidup saya nanti. Semoga saja apapun keputusannya, dia adalah orang yang mampu memahami tanpa menghakimi setiap pilihan saya.
Kamis, 11 Februari 2016
Eka Annash dan The Brandals bukan sesuatu yang asing untuk saya. Sekitar tahun 2004, ketika saya masih dibangku SMP, untuk pertama kalinya mendengarkan band rock asal ibu kota tersebut. Tidak ada impresi lain, kecuali mereka adalah kumpulan pemuda liar, tidak sadarkan diri, aksi panggung rusuh, musik provokatif, dan cerminan Jakarta. Sebagai seorang anak SMP yang ketika itu masih dimanjakan dengan trek pop kalem macam Peterpan, Padi, Dewa 19, Sheila on 7, dan Club 80's. Menyaksikan The Brandals adalah penyegaran tersendiri, meskipun sedikit shock dengan identitas yang mereka bawa ketika itu.
"Tapi itu, ketika gua berumur 25 tahun." terang Eka Annash saat saya temui dikantornya siang tadi. "Masih punya semangat yang pengen dimuntahin ke orang banyak."
Eka Annash yang saya temui, sekarang sudah mulai perlahan kalem. Bahkan dia mengakui apa yang ia lakukan bersama bandnya kala itu, sudah tidak relevan dengan dirinya sekarang. "Semakin lo berumur, semakin lo tau bagaimana harus bersikap. Gak mungkin dengan umur gua yang sekarang, gua masih melakukan apa yang gua lakukan ketika diumuran 25."
The Brandals sudah vakum, terlebih sejak meninggalknya drumer sekaligus adik kandung Eka, alm. Rully Annash pada akhir tahun lalu. Sekarang Eka menyibukan dirinya untuk bekerja dan berkarya bersama band barunya, Zigi Zaga. Sebuah proyek art-punk yang ia dirikan bersama beberapa teman kerjanya.
Sejatinya, Eka Annash siang itu bukanlah sosok yang saya lihat ketika saya masih SMP dulu, bukan pria yang liar, gemar berkata seronok, dan mabuk di atas panggung. Namun saya justru melihat aura rockstar yang berbeda dari nya yang sekarang, Eka Annash adalah pria dewasa yang masih memiliki semangat rebel dalam dirinya. Bukan rebel dalam arti yang kekanak-kanakan, mabok setiap hari dan berbuat onar. Semangat juang dan sisi provokatifnya masih ada dalam dirinya yang mulai kalem. "Gua masih mau memprovokasi orang. Masih mau membawa suatu masalah untuk didiskusikan ke publik 'ini loh, ada masalah ini sekarang'," tandasnya.
Yang lebih penting adalah dia sangat bersahaja sekali.
"Tapi itu, ketika gua berumur 25 tahun." terang Eka Annash saat saya temui dikantornya siang tadi. "Masih punya semangat yang pengen dimuntahin ke orang banyak."
Eka Annash yang saya temui, sekarang sudah mulai perlahan kalem. Bahkan dia mengakui apa yang ia lakukan bersama bandnya kala itu, sudah tidak relevan dengan dirinya sekarang. "Semakin lo berumur, semakin lo tau bagaimana harus bersikap. Gak mungkin dengan umur gua yang sekarang, gua masih melakukan apa yang gua lakukan ketika diumuran 25."
The Brandals sudah vakum, terlebih sejak meninggalknya drumer sekaligus adik kandung Eka, alm. Rully Annash pada akhir tahun lalu. Sekarang Eka menyibukan dirinya untuk bekerja dan berkarya bersama band barunya, Zigi Zaga. Sebuah proyek art-punk yang ia dirikan bersama beberapa teman kerjanya.
Sejatinya, Eka Annash siang itu bukanlah sosok yang saya lihat ketika saya masih SMP dulu, bukan pria yang liar, gemar berkata seronok, dan mabuk di atas panggung. Namun saya justru melihat aura rockstar yang berbeda dari nya yang sekarang, Eka Annash adalah pria dewasa yang masih memiliki semangat rebel dalam dirinya. Bukan rebel dalam arti yang kekanak-kanakan, mabok setiap hari dan berbuat onar. Semangat juang dan sisi provokatifnya masih ada dalam dirinya yang mulai kalem. "Gua masih mau memprovokasi orang. Masih mau membawa suatu masalah untuk didiskusikan ke publik 'ini loh, ada masalah ini sekarang'," tandasnya.
Yang lebih penting adalah dia sangat bersahaja sekali.
Selasa, 09 Februari 2016
Setelah membaca ulang laporan PKL, saya merasa seperti bukan mahasiswa jurnalistik dan malah seperti mahasiswa advertising. Pasalnya selama mengerjakan laporan tersebut, saya lebih banyak berkutat pada content strategy dan segala macam anak turunan dari ilmu SEO: cara kerja adsense, adwords, menentukan keywords yang baik untuk situs, dsb.
Anyway, semester ini saya berhasil mengambil skripsi. Ini menakjubkan, saya bisa cepat-cepat keluar dari lingkaran institusi ini.
Anyway, semester ini saya berhasil mengambil skripsi. Ini menakjubkan, saya bisa cepat-cepat keluar dari lingkaran institusi ini.
Minggu, 07 Februari 2016
Cara terbaik mengobati luka bukan dengan melawannya, apalagi lari menghindarinya. Melainkan dengan menikmatinya, fokus pada luka tersebut, resapi setiap rasa sakit yang ditimbulkannya. Biarkan diri kita menikmati setiap detik rasa sakit itu. Semakin kita fokus untuk menikmatinya, semakin kita mampu mengendalikan rasa sakit tersebut. Semakin tenang diri kita. Setelah semuanya terlewati, kita tidak akan lagi merasakan hidup yang sama seperti sebelumnya. Kepercayaan pada diri kita akan bertambah, kita akan semakin berani terhadap apapun. Luka itu tidak sembuh total, rasa sakitnya kadang datang menghampiri. Tapi itu bukan masalah yang besar lagi bagi kita. Perlahan, semuanya akan berjalan biasa dan ketika itu kita akan sadar hidup ini sudah berubah. Luka pun akan mengering dengan sendirinya.
Sebab dengan menikmati luka, kita akan mendapatkan sensasi dari sebuah proses yang tak bisa didapatkan di manapun, kecuali mencobanya.
"Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu. Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu." - Taifun, Barasuara.
Sebab dengan menikmati luka, kita akan mendapatkan sensasi dari sebuah proses yang tak bisa didapatkan di manapun, kecuali mencobanya.
"Saat kau menerima dirimu dan berdamai dengan itu. Kau menari dengan waktu tanpa ragu yang membelenggu." - Taifun, Barasuara.
Langganan:
Postingan (Atom)

