Kacau! Saya menuai kegagalan kembali. Saya menghisap lebih dari tiga batang rokok hari ini. Saya telah melanggar janji pada diri sendiri. Penyebabnya Lutvy datang ke rumah dan mengajak ngobrol panjang lebar -satu hal yang tak bisa saya lewatkan tanpa rokok. Lutvy dan Dittus malam tadi mampir ke rumah, sebenarnya cukup lelah maka dari itu sebelumnya saya memperingati untuk tidak nongkrong terlalu larut. Sayang, kita berhenti tepat pada pukul tiga pagi. Saya hanyut dalam obrolan.
Dittus yang belakangan ini saya ketahui sedang dilanda kegalauan dalam tempatnya bekerja karena tidak sesuai dengan syariat islam -hanya sedikit orang yang mempunyai alasan seperti ini dalam lingkaran saya dan itu mengagumkan- pada akhirnya mendapatkan solusi. Setelah bekerja sebagai sales mobil ia rasa terlalu banyak mudharat daripada berkah, akhirnya ia mendapat tawaran untuk bekerja sebagai marketing ayam. Satu hal yang ia syukuri, saya pun cukup senang karena dia punya basic yang bagus dalam marketing. Semoga saja kerjaannya nanti sesuai dengan khendaknya selama ini.
Lutvy pun begitu, setelah hengkang sebagai layouter untuk salah satu media massa, ia menemukan kebuntuan ditempat kerjanya yang baru. Sepertinya ada hal yang membuat ia bosan dengan kerjaannya saat ini. Entah detailnya seperti apa, saya pun kurang bisa menerka. Namun dia adalah orang yang bersemangat sekali untuk berwirausaha dan mencoba mengajak kami berdua. Lalu saya menyarankan untuk membentuk sebuah PH karena kita mempunyai basic yang cukup memenuhi untuk melakukan hal itu. Lutvy mahir design, bermusik, dan foto. Dittus bisa marketing. Saya bisa menulis, design, juga foto. Beberapa teman juga ada yang menggeluti broadcasting. Saya rasa jadi tepat. Tapi kita tidak menemukan ide yang ideal untuk menjadi PH. Lalu saya datang dengan ide yang super gila, yakni membentuk LSM. Saya jelaskan pada mereka soal work flow mapping nya. Lutvy sedikit setuju, namun Dittus tidak, ia takut menjadi gelap mata. Yah, work flow mapping yang saya tawarkan memang diluar dari prinsip hidup saya selama ini. Sejujurnya saya pun tidak benar-benar rela apabila nanti menjalankannya. Resikonya terlalu besar dan kentara akan mudharat.
Dittus dan Lutvy pun terus berpikir. Lalu saya teringat dengan beberapa kelompok yang bisa survive dengan passionnya, sebut saja teman-teman di Ruangrupa dan Pirate Punk. Dimana mereka bisa hidup dari apa yang awalnya menjadi hobby mereka. Kita pun sepakat bahwa mereka adalah orang-orang yang percaya dan pada akhirnya konsisten untuk terus hidup di jalannya. Oke, intinya kita harus percaya pada jalan yang kita pilih. Lalu saya mengusulkan untuk membuat sebuah portal berita anak remaja, Lutvy pun ternyata sepemikiran. Dittus mengiyakan. Dengan naifnya, saya melihat potensi cukup besar di industri itu. Akhirnya kita rampungkan konsep kasarnya seperti apa dan bagaimana. Hal ini akan menjadi serius, setidaknya setelah saya turun jabatan di Aspirasi nanti. Setelah Lutvy menyelesaikan bulan-bulan yang hectic dalam kerjaannya. Selepas Dittus yang keluar dari kegalauan tempatnya bekerja. Selama itu, kita akan pelan-pelan mengumpulkan power untuk merealisasikan hal ini.
Malam itu terkikis oleh obrolan panjang seputar pematangan konsep dasar, tanpa saya sadari sudah banyak pesan menunggu untuk di baca dan jarum jam yang menyentuh angka tiga. Beberapa menit lagi adzan subuh. Lutvy harus berangkat kerja pagi-pagi. Dittus juga begitu. Saya harus ke Komunitas Bambu jam sebelas nanti, tapi belum juga tidur hingga sekarang. Tapi tak soal, saya kembali begadang untuk suatu hal yang bermanfaat dan tentunya menghasilkan sebuah ide. Saya selalu senang malam, apabila seperti ini. Penuh makna.
Selasa, 27 Oktober 2015
Sabtu, 24 Oktober 2015
Akhirnya saya tumbang. Setelah beberapa hari terakhir mencoba menyeimbangi pola hidup untuk tidak berada pada titik seperti ini. Saya sudah mengurangi konsumsi rokok (walau faktanya saya hanya mengurangi membeli), mengurangi makanan hewani, memperbanyak sayur, tidak minum air dingin; soda; teh manis, tapi semua hilang karna pola tidur yang berantakan. Dalam sehari saya hanya bisa tidur paling maksimal enam jam dan sialnya kadang hanya tiga - empat jam, dengan rutinitas yang menguras mental dan fisik.
Dalam kondisi seperti istirahat memang sangat diperlukan, sayangnya saya hanya bisa mengistirahatkan raga tapi tidak untuk pikiran -berpikir adalah hal yang justru lebih melelahkan.
Tuhan selalu punya cara untuk menunjukan kasih sayang pada umatnya. Sayang umatnya kadang tidak terlalu memperdulikan hal tersebut. Memang kasih sayang tuhan bisa datang dalam bentuk yang menurut umatnya buruk, namun dibalik itu semua menyimpan banyak esensi juga kaya akan manfaat.
Selamat beristirahat. Semoga kau tak juga sakit.
Dalam kondisi seperti istirahat memang sangat diperlukan, sayangnya saya hanya bisa mengistirahatkan raga tapi tidak untuk pikiran -berpikir adalah hal yang justru lebih melelahkan.
Tuhan selalu punya cara untuk menunjukan kasih sayang pada umatnya. Sayang umatnya kadang tidak terlalu memperdulikan hal tersebut. Memang kasih sayang tuhan bisa datang dalam bentuk yang menurut umatnya buruk, namun dibalik itu semua menyimpan banyak esensi juga kaya akan manfaat.
Selamat beristirahat. Semoga kau tak juga sakit.
Jumat, 23 Oktober 2015
Saya telat menyadari bahwa kampus yang seakrang menjadi tempat menimba ilmu berada dibawa Kementerian Pertahanan dan masih berjejaring dengan militerisme tentunya. Hal tersebut saya sadari setelah setahun menjadi mahasiswa. Saya merasa terjebak karna saya tidak pernah menyukai militerisme karna banyak hal yang membuat saya kecewa dengan peran dan posisinya sebagai aparatur negara.
Kebaikan militerisme bagi saya berhenti di era pasca-kemerdekaan ketika mereka berjuang mempertahankan negeri ini. Tapi setelah kemerdekaan berhasil Indonesia raih dan terlebih militer sudah mulai bermain politik, semua menjadi omongkosong. Tumbangnya Soekarno, tragedi 1965, Malari 74, dan 1998 membuat saya untuk tidak lagi mengaggumi mereka. Terlebih setelah peran militer dalam setiap konflik agraria tidak selalu berdampingan dengan rakyat justru sebaliknya, yakni menjadi penjaga para pemilik modal.
Saya cukup senang karena pada pelaksanaan Dwifungsi ABRI, saya masih terlalu bocah untuk menelaah permainan yang terjadi di negeri ini. Tapi sekarang, ketika Bela Negara dicanangkan, saya sudah mampu berpikir bahwa hal ini adalah penyelarasan pola pikir, proses produksi kaum ultra-nasionalis, pengkaderisasian paramiliter, dan tujuannya untuk menyeimbangkan kekuasaan pemerintah serta militer.
Tidak akan ada lagi keberagaman suara. Semua akan selaras, bukan karena diintimidasi seperti era ORBA lalu namun karena perspektif rakyat telah disamaratakan dalam satu komando.
Saya pikir dengan terpilihnya Jokowi -yang seorang sipil- akan memberikan jarak antara pemerintah dengan militer. Ternyata sama saja.
Naasnya, kampus saya menjadi percontohan program ini. Hahaha
Selamat datang di era penyeragaman pola pikir di era demokrasi.
Kebaikan militerisme bagi saya berhenti di era pasca-kemerdekaan ketika mereka berjuang mempertahankan negeri ini. Tapi setelah kemerdekaan berhasil Indonesia raih dan terlebih militer sudah mulai bermain politik, semua menjadi omongkosong. Tumbangnya Soekarno, tragedi 1965, Malari 74, dan 1998 membuat saya untuk tidak lagi mengaggumi mereka. Terlebih setelah peran militer dalam setiap konflik agraria tidak selalu berdampingan dengan rakyat justru sebaliknya, yakni menjadi penjaga para pemilik modal.
Saya cukup senang karena pada pelaksanaan Dwifungsi ABRI, saya masih terlalu bocah untuk menelaah permainan yang terjadi di negeri ini. Tapi sekarang, ketika Bela Negara dicanangkan, saya sudah mampu berpikir bahwa hal ini adalah penyelarasan pola pikir, proses produksi kaum ultra-nasionalis, pengkaderisasian paramiliter, dan tujuannya untuk menyeimbangkan kekuasaan pemerintah serta militer.
Tidak akan ada lagi keberagaman suara. Semua akan selaras, bukan karena diintimidasi seperti era ORBA lalu namun karena perspektif rakyat telah disamaratakan dalam satu komando.
Saya pikir dengan terpilihnya Jokowi -yang seorang sipil- akan memberikan jarak antara pemerintah dengan militer. Ternyata sama saja.
Naasnya, kampus saya menjadi percontohan program ini. Hahaha
Selamat datang di era penyeragaman pola pikir di era demokrasi.
Selasa, 20 Oktober 2015
Ketika tidak ada kerjaan di kantor, saya menyempatkan untuk membuka Youtube. Saya sempat kaget, mengetahui bahwa Gigi pernah rekaman di Abbey Road Studio -studio legendaris Inggris. Ternyata itu sudah berlangsung 2014 lalu. Ah, saya tidak update sama sekali soal musik arus utama.
Saya bukan fans fanatik Gigi memang. Hanya beberapa hits mereka yang saya suka, khususnya track "Andai". Saya pun sudah mulai anti-pati pada mereka, ketika merasa tidak cocok dengan lagu "Nakal" yang terlalu aneh dari segi aransemen juga penulisan lirik.
Tapi album Live at Abbey Road mereka, membuat saya menarik umpatan. Terlepas dari daya magis studio rekaman, saya pikir musik mereka dalam album tersebut, sangat rekomendasi sekali untuk disimak. Apalagi track "Meja Ini", total keren. Nuansanya seakan relijius, seperti mendengarkan soundtrack serial tv kerohanian (if you know what i mean). Sayangnya lagu bagus seperti ini, kenapa tidak booming. Ah mungkin saya yang tidak terlalu memperhatikan.
Minggu, 18 Oktober 2015
Iseng Rekam: Bulgar
Santai, satu bulan lagi, kita pasti jumpa. Saya sudah rindu makan masakan rumah, juga dengan kekacauan yang terjadi di dalamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)