Kamis, 05 November 2015

Percakapan Imajiner Menjelang Dini Hari

Susilo (S): Jam berapa sekarang do ?
Widodo (W): Gak tau tuh
S: Kenapa kamu gak tau ?
W: Sebab dia gak mau ngasih tau sih
S: Yah kenapa gitu ?
W: Cuma karena saya gak bagi kue putu
S: Baper sekali
W: Namanya juga anak zaman
S: Yaudah. Kamu laper ?
W: Kamu kok nanya begitu ? Kaya gak kenal aja sih
S: Yeh. Kamu laper ?
W: Apasih ?
S: Serius nih
W: Saya Widodo tau
S: Maksud saya, kamu laper gak, anying ?
W: Oh. Yang jelas dong. Biasa aja
S: Serius ?
W: Kok kamu maksa sih ?
S: Ah yaudalah
W: Kamu laper ?
S: Saya Susilo
W: Eh tau gak ?
S: Mana saya tau, kamu aja belom ngasih tau
W: Oh iya ya. Ko orang pada ribut gara-gara asap yaa ?
S: Tau tuh. Saya juga heran. Padahal saya gak ngerasain loh
W: Iya kayanya mereka kurang kerjaan deh
S: Apalagi para selebritis itu, masa asap aja diributin. Mending juga urusin akting aja
W: Iya setuju. Mending perbaikin kualitas FTV yang tengah malem
S: Kamu suka nonton FTV ?
W: Suka banget
S: Kenapa gitu ?
W: Cuma FTV yang gak ribut soal asap
S: Sama Adzan juga
W: Iya adzan juga
S: Eh kamu gak ada rencana untuk nikah ?
W: Ada kok
S: Kapan ?
W: Kalau gak besok siang yah abis magrib ajalah
S: Ngaco!
W: Kamu punya cita-cita gak ?
S: Pertanyaan kamu, kayak anak SD aja sih
W: Serius nih!
S: Ada sih
W: Mau jadi apa ? Pasti presiden yaa
S: Gak mau ah. Jadi presiden gak bisa liburan
W: Kata siapa ?
S: Kayanya sih
W: Saya mah mau jadi presiden, gajinya gede
S: Alah ngawur. Mana bisa!
W: Bisalah
S: Gimana caranya ?
W: Yah dengan usaha
S: Iya tau. Tapi apa ?
W: Tidur
S: Kok ?
W: Ah sudahlah. Saya udah ngantuk
S: Ko bisa ?
W: Bisalah
S: Serius kamu mau tidur ?
W: Iya
S: Eh tau gak ?
W: Nggak
S: Yaudah deh saya juga tidur kalau begitu

Iseng Design: Poster


Sepertinya cukup gamblang tersirat dari poster ini, apa yang sedang saya coba sampaikan.


Mahasiswa tidak bisa dikatakan sebagai makhluk yang bebas seutuhnya. Sedemokratis apapun sistem universitas, mahasiswa sejatinya adalah makhluk yang dipelihara oleh institusi. Sama halnya seperti burung, walaupun ia pada hakikatnya adalah makhluk bersayap yang bebas namun ketika masuk sangkar tetap saja ia menjadi hewan peliharaan dengan segala macam gerak yang dibatasi.

Selasa, 03 November 2015

Saya benar-benar butuh udara segar. Setidaknya untuk beberapa hari, seharipun boleh. Satu hari dimana saya tidak terjamah oleh perkuliahan, rutinitas organisasi, orang lain, dan hanya sibuk dengan diri sendiri. Saya perlu melarikan diri, mungkin ke tempatnya Gilang di Cipanas, sembari membaca buku-buku seru di perpustakaannya. Atau pergi ke tempatnya Acil dan menjelajah kota Bandung. Atau pulang ke Garut dan menghabiskan waktu melamun di kawah darajat sembari mendengarkan alunan musik folk. Kemanapun itu, saya butuh penyegaran otak.

Hari ini migrain saya kambuh. Sebuah penyakit yang membuat saya tertawa, karena saya pikir penyakit ini hanya untuk orang tua saja (sedangkan saya masih teramat muda untuk merasakan ini). Rasanya pun menakjubkan, saya seperti mempunyai dua kepala. Pada satu waktu saya merasa itu sangat keren. Tapi dilain waktu, sungguh menyebalkan karena efeknya membuat mata yang perih. Sialnya saya harus berangkat kuliah, setibanya dikampus banyak sekali yang ingin mengajak saya ngobrol, seandainya mereka tau saya tidak dalam mood yang bagus untuk bicara. Tapi mereka tidak akan tau kecuali saya beri tau. Beberapa teman mengira saya sedang mabuk ganja, karena saya kikuk dan gak nyambung diajak bicara. Padahal saya setengah mati mengumpulkan mood untuk berkomunikasi dengan mereka juga menahan kepala yang serasa berat kesamping. Beruntungnya hari ini dosennya tidak ada.

Saya rasa memang perlu melakukan pelarian kecil-kecilan.
PUTAR KEMUDI KAPTEN! GELOMBANG PASANG DI DEPAN. AWAS BAHAYA KAPAL KARAM
PUTAR KEMUDI CEPAT. JANGAN BIARKAN KAPAL KARAM. TEPIAN MASIH SANGAT JAUH
KEMBANGKAN SEMUA LAYAR. MARI BALIK ARAH. TAK MUNGKIN MENERJANG TOPAN
KAPAL KITA KECIL, KAPTEN!
TAK USAH SUNGKAN. SETIDAKNYA KAU SUDAH BERJUANG
MARI REHAT DI TEPIAN SEJENAK. PERBAIKI BAGIAN YANG RUSAK
SEMBARI MENGHISAP TEMBAKAU PILIHAN DAN MENUNGGU GELOMBANG SURUT
JIKA LANGIT CERAH. MARI KITA HANTAM SAMUDRA KEMBALI!
KITA JELAJAHI SELURUH SEMESTA. SAMPAI KITA MENEMUKAN TEPIAN YANG INDAH

Senin, 02 November 2015

Kegelisahan adalah sebuah substansi yang bisa destruktif namun bisa juga menjadi pematik. Semua tergantung bagaimana kita mengelolah kegelisahan tersebut. Saya katakan destruktif, sebab jika kegelisahan hanya terus diratapi, ditangisi, atau banalnya terus menerus dikutuk, tentu kegelisahan dapat membunuh mu secara perlahan-lahan. Sebaliknya, kegelisahan akan menjadi pematik kehidupan apabila kau rasa perlu untuk membunuhnya.

Saya pada awalnya membenci kegelisahan, saya ingin seumur hidup terbebas dari nya namun tak bisa. Lantas, saya selami kegelisahan tersebut. Semakin dalam-semakin dalam dan dalam saya menyelaminya. Hingga saya sadar berada pada titik paling dasar dari kegelisahan yang akut. Yang mana membuat nafas saya terengah, persis seperti ketika berada di dasar laut tanpa adanya asumpan oksigen sama sekali. Saya tak ingin mati dalam kondisi seperti ini. Saya harus kembali ke permukaan lalu menepi. Maka saya gerakan tubuh untuk berenang menuju tepian.

Pada akhirnya saya merasa bahwa kegelisahan adalah adiktif. Tanpa saya sadari saya senang ketika dalam kegelisahan (terhadap hal apapun), sebab jika saya tak gelisah maka saya merasa hidup ini menjadi tidak dinamis. Lalu saya perlu merasa gelisah terhadap kematian sementara amal-ibadah tidak cukup, gelisah bahwa uang di kantong semakin menipis sementara kebutuhan kian mendesak, gelisah apa nanti saya bisa mendapat pekerjaan yang layak, gelisah apakah saya bisa menjalani hidup dengan wanita yang tepat, gelisah apakah saya bisa terus bermanfaat untuk orang lain, dan sederet kegelisahan lainnya. Saya perlu itu semua, untuk mendorong otak berpikir kemudian membunuh setiap indikasi-indikasi kegelisahan.