Sabtu, 28 Maret 2015

Iseng Poto: rumahsakit Rilis Album Timeless

Saya mungkin termasuk dari sebagian banyaknya penggemar rumahsakit yang ingin menyaksikan band idola tampil dengan formasi baru. Yah, setelah Andri Lemes hengkang kini posisi vokal diisi oleh Arif. Butuh waktu untuk adaptasi memang, tapi setelah didengar karakter vokal Arif mempunyai karakter yang ciamik. Tentu hal ini memberi dampak bagi rumahsakit sendiri, mereka jadi lebih harmonis. Kalau dulu saya menyebutnya sebagai band indie-pop dengan sentuhan punk rock (if you know what i mean).

Album terbaru mereka yang bertajuk Timeless, sudah selama tiga hari ini menemani hari-hari saya di sekret Aspirasi. Sepertinya penduduk sekret juga menyukainya. Jelas aja, band ini memang keren sih.

Ini Arif, vokalis barunya rumahsakit




rumahsakit ft Jimi plays "Kuning"



Iseng Poto: Morfem

Pasukan fuzz-rock (alah! term apalagi ini fi ?), yah sebut sajalah indie-rock juga. Oke, Morfem selalu bisa membuat saya berdecak kagum sembari bergumam "Anjing! Kok lo keren sih!". Entah, sudah berapa kali saya melihat live panggung mereka, namun tidak pernah membosankan, selalu ada hal baru yang mereka persembahkan. Entah merekontruksi lagu sendiri atau meng-cover lagu band lain dengan versi mereka pastinya.

Berikut ini adalah foto Jimi cs. sewaktu menjadi band pembuka rumahsakit di The Foundry Sudirman Jakarta Selatan, Selasa (24/3) kemarin.






Iseng Poto: Barefood

Selasa (24/3) kemarin, saya berkesempatan untuk menyaksikan trio indie-rock Jakarta, Barefood, lagi. Mereka tampil dalam rangka sebagai band pembuka untuk rumahsakit yang sedang rilis album keempat bertajuk Timeless.

Penampilan Barefood malam itu cukup memukau, walaupun sempat terkendala pada salah satu effect guitar yang tak mau menyala ketika "Drone" dimainkan. Mereka selalu mampu mengantarkan nuansa musik alternative-rock 90-an, memang.

Trio Barefood Live in The Foundry Sudirman
(rumahsakit Launching Party for Timeless)




Jumat, 27 Maret 2015

Wahai penguasa kosmos, segala induk dari semua hal dan zat yang bergerak. Rasanya lelah menghadapi sebuah ordo mutakhir. Yang mana terlalu banyak lembar terselip yang kita semua sulit percayai. Sebuah lembar penentu nasib seseorang. Aku lelah berkeluh kesah. Namun aku tak kuasa melawan. Benar kata orang tua itu, dunia adalah neraka yang sebenarnya. Padang pasir jauh dari sini namun fatamorgana ada dimana-mana. Merajam kaki hingga tulang belakang. Sakit, bukan kepalang. Sampai kapan semuanya berakhir ? Sampai semua ciptaan mu dibuatnya menjadi hologram, kah ? Jika kau mengizinkan aku untuk hidup berpuluh-puluh tahun, titpkan semangat mu dalam denyut nadi ku ini. Biarkan aku bernafas walau kadang terengah. Tidak ada yang aku butuhkan dari sebuah pemantik gelora jiwa. Kirimkan satu untuk ku. Maka akan ku selesaikan bab-bab kegelisahan ini dengan penuh suka cita.

Selasa, 24 Maret 2015

Seminggu menderita flu bukan berarti aktifitas saya harus terhenti. Perkara hidung berlendir dan suara bindeng, masih bisa diatasi. Walau kadang harus kuliah dan rapat di Aspirasi dengan kondisi setengah mengawang. Tapi hari ini benar-benar berat, pening di kepala seharian tak mau hilang. Saya pikir ini masih efek dari flu dan ditambah kondisi yang tak terjaga dua hari belakangan ini. Bisa jadi karna efek begadang malam minggu kemarin.

Rasanya ingin saya ikat kencang kepala ini, habisnya seakan mau meledak. Padahal sebisa mungkin saya mencoba menjaga kesehatan karna kondisi yang jauh dari orang tua dan dengan finansial yang terbatas, jatuh sakit tentu adalah momok yang menakutkan. Seperti pada waktu PAM tahun lalu, berangkat dengan kondisi yang tak bugar kemudian harus bekerja mempersiapkan kebutuhan PAM angkatan 30 dan ditambah kelakuan para senior yang mengada. Alhasil, sepulang PAM saya meringkuk sakit sendirian di rumah. Baru sadar, sakit dalam kondisi tanpa siapa-siapa itu menyiksa banget. Beruntunglah kalian yang masih tinggal satu atap dengan orang tua.

Gigi saya terus bergidik, saking peningnya kepala. Mau tidur pun tak bisa karna baru saja terbangun. Hari ini saya memutuskan untuk pulang lebih cepat dari sekret untuk tidur, memang disengajakan. Dengan harapan besok bisa pulih, karna jika tidak tentu akan menghambat keseluruhannya.

Biarkanlah sakit ini merajam tubuh. Saya akan berusaha menikmatinya. Tapi kalau boleh memilih, jangan sampai harus dirawat inap.