Tadi siang saya berjumpa dengan Bapak Ali Zaidan, dalam rangka diskusi mengenai cyberbullying di kampus. Kebetulan saya bertindak sebagai moderator dan beliau sebagai pembicara dari aspek hukum. Sebelum naik panggung, kami berbincang cukup ulet mengenai materi yang hendak beliau paparkan. Namun dari satu titik yakni cyberbullying mendadak menjalar kemana-mana.
"Sebetulnya cyberbullying atau cybercrime itu sendiri tidak selalu mendatangkan kerugian, ada juga yang mendatangkan untung," ujar beliau. Saya pun terperangah mendengarnya. Menurut beliau kerugian dari praktik cyberbullying/cybercrime itu hanya terjadi pada masyarakat biasa. Namun jika terjadi pada publik figur itu justru menjadi keuntungan. Coba lihat saja beberapa artis yang di bully masyarakat tiba-tiba mendapat banyak job tampil setelahnya. Saya pun mengamini, para selebritis macam Ariel yang sempat dicekal akibat tindak videonya seketika menjadi banjir job manggung bagi bandnya, Vicky P. dengan bahasa super intelektualnya yang sempat dicibir masyarakat pun kini menjadi banjir job, dsb. "Saya juga gak tau mereka menyadari hal ini atau memang itu sudah di setting demikian," paparnya. "Tapi sepertinya mereka memang sudah tau betul cara menggunakan media, sehingga hal ini bisa jadi sudah disadarinya."
Saya pun menimpalinya, menurut saya pun memang begitu. Saya pikir dalam dunia hiburan, hal tersebut bisa disebut dengan gimmick. Memang kadang gimmick ada yang biasa dan juga kadang ada yang sensasional bahkan kontroversional.
Hal serupa yang, menurut beliau, diterapkan oleh politisi di Indonesia. Ia menyebutkan salah dua nama mantan presiden RI, yang menggunakan metode ini untuk meraih simpati rakyat. Hemat beliau, di Indonesia itu mudah untuk menjaring simpati orang lain, caranya dengan membuatnya si subjek terlihat iba.
Mendengarnya saya tertawa, "Kalau begitu seharusnya di fakultas saya ada mata kuliah Teori Iba yah, pak ?" beliau hanya tertawa sembari menepuk pundak saya. "Mungkin itu perlu haha."
Dari hasil perbincangan singkat dengan beliau yang seorang dosen hukum pidana, saya menjadi yakin bahwa setiap konflik bisa dipermainkan. "Kalau kamu pintar memainkan konflik, kamu bisa menang," tandasnya.
Senin, 21 Maret 2016
Jumat, 18 Maret 2016
Jadi seperti ini, awal 2016 ini dibuka oleh beberapa hal menggemparkan yang terjadi pada scene hardcore/punk tanah air, sekaligus telah menggampar muka saya habis-habisan, juga membuat saya senyum gembira. Semua itu terjadi berkat Hera -seorang teman wanita dari Bandung yang aktif di band sludge/punk OATH, merampungkan film pertamanya sekaligus film pertama di Indonesia yang menyoroti aktivisme perempuan yang ada di scene hardcore punk Indonesia. Pada 3 April nanti filmnya yang berjudul Ini Scene Kami Juga! akan tayang perdana di Lady Fast Jogyakarta. Selain itu ada juga Tomi Wibisono, seorang pemuda punk rocker asal Balikpapan yang hijrah ke Jogya untuk kuliah, yang baru saja merilis buku Questioning Everything beberapa waktu lalu. Saya kenal Tomi dari semenjak dia masih SMA dan berkutat dengan zine punk miliknya, Salah Cetax Zine.
Tentu dua figure ini telah menggemparkan, ah bahkan saya rasa lebih dari itu, mereka telah membombardir scene hardcore punk yang nyaris statis dan membosankan. Ketika sebagian orang di scene ini masih sibuk mendebatkan soal DIY Ethics yang banalnya hanya berakhir dengan debat kusir, cuped, dan bikin lelah, yang justru jauh dari hakikat DIY itu sendiri yakni Lakukan Sendiri. Garis bawahi dan tebalkan kata LAKUKAN! Mungkin dengan begitu kita akan sadar dengan maksud di balik kata DIY itu sendiri. Juga di tengah, hiruk pikuk fenomena rilisan yang semakin tak kalah menjenuhkannya, karena semua band sekarang bisa memproduksi rilisan fisiknya sendiri namun sayangnya tak banyak yang tau bagaimana cara mendistribusikannya dengan baik.
Hera dan Tomi telah menggampar saya untuk kembali berkaca, bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam scene hardcore punk ini selain membuat band, mengorganize gigs, dan menjual merch/rilisan. Bahwa tidak untuk tidak mungkin di Indonesia, bisa tumbuh sineas yang meng-capture tentang komunitas ini. Bahwa akan mungkin, bisa membuat literatur sendiri (selain zine) dan dikerjakan secara lebih serius. Mereka menggampar dan meyakinkan saya bahwa scene hardcore punk ini benar-benar menyenangkan juga tidak sekedar urusan band belaka. Hal ini juga yang membuat saya tersenyum gembira, melihat perkembangan yang signifikan dari para penggiat scene yang percaya bahwa dari sini lah mereka juga bisa tumbuh dan berkembang.
Dengan kehadiran mereka semakin menambah contoh riil dari wacana etos kemandirian yang scene ini berikan. Setelah sebelumnya Straight Answer mampu melakukan touring SE Asia-Japan dengan modal sendiri pada tahun lalu, Kontrasosial juga telah melakukan hal serupa dengan touring ke Eropa, Bandung Pyrate Punx berhasil mendirikan community space tanpa perlu mengirim proposal ke Ridwan Kamil, kawan-kawan di Padang juga mendirikan hal serupa dengan Hardcore Mayhemnya, Samstrong Records telah berhasil menjangkau jalur pendistribusian yang luas hingga ke Eropa dan AS tanpa harus menjadi sebesar Musica Studio atau Sony BMG, Punx Alay selalu bisa mengorganize show punk yang keren di pantai juga di hutan tanpa harus menjadi Java Music Indo atau Ismaya Group.
Selanjutnya siapa lagi ?
Panjang umur kreativitas. Sehat selalu kemandirian!
Tentu dua figure ini telah menggemparkan, ah bahkan saya rasa lebih dari itu, mereka telah membombardir scene hardcore punk yang nyaris statis dan membosankan. Ketika sebagian orang di scene ini masih sibuk mendebatkan soal DIY Ethics yang banalnya hanya berakhir dengan debat kusir, cuped, dan bikin lelah, yang justru jauh dari hakikat DIY itu sendiri yakni Lakukan Sendiri. Garis bawahi dan tebalkan kata LAKUKAN! Mungkin dengan begitu kita akan sadar dengan maksud di balik kata DIY itu sendiri. Juga di tengah, hiruk pikuk fenomena rilisan yang semakin tak kalah menjenuhkannya, karena semua band sekarang bisa memproduksi rilisan fisiknya sendiri namun sayangnya tak banyak yang tau bagaimana cara mendistribusikannya dengan baik.
Hera dan Tomi telah menggampar saya untuk kembali berkaca, bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam scene hardcore punk ini selain membuat band, mengorganize gigs, dan menjual merch/rilisan. Bahwa tidak untuk tidak mungkin di Indonesia, bisa tumbuh sineas yang meng-capture tentang komunitas ini. Bahwa akan mungkin, bisa membuat literatur sendiri (selain zine) dan dikerjakan secara lebih serius. Mereka menggampar dan meyakinkan saya bahwa scene hardcore punk ini benar-benar menyenangkan juga tidak sekedar urusan band belaka. Hal ini juga yang membuat saya tersenyum gembira, melihat perkembangan yang signifikan dari para penggiat scene yang percaya bahwa dari sini lah mereka juga bisa tumbuh dan berkembang.
Dengan kehadiran mereka semakin menambah contoh riil dari wacana etos kemandirian yang scene ini berikan. Setelah sebelumnya Straight Answer mampu melakukan touring SE Asia-Japan dengan modal sendiri pada tahun lalu, Kontrasosial juga telah melakukan hal serupa dengan touring ke Eropa, Bandung Pyrate Punx berhasil mendirikan community space tanpa perlu mengirim proposal ke Ridwan Kamil, kawan-kawan di Padang juga mendirikan hal serupa dengan Hardcore Mayhemnya, Samstrong Records telah berhasil menjangkau jalur pendistribusian yang luas hingga ke Eropa dan AS tanpa harus menjadi sebesar Musica Studio atau Sony BMG, Punx Alay selalu bisa mengorganize show punk yang keren di pantai juga di hutan tanpa harus menjadi Java Music Indo atau Ismaya Group.
Selanjutnya siapa lagi ?
Panjang umur kreativitas. Sehat selalu kemandirian!
Minggu, 13 Maret 2016
Semakin hari, semakin cemas merundung. Semakin gelisah saya jadinya. Melihat apa yang bergulir dalam tatanan masyarakat hari ini, entah di dunia maya dan nyata. Keduanya mengkhawatirkan. Nyali saya ciut jadinya. Jantung berdegup tak karuan, manakala selalu terngiang akan hal ini. Melihat perdebatan para agamais yang saling sibuk melegitimasi moral masing-masing hingga lupa mempertanyakan sejauh mana ibadahnya sendiri di hadapan tuhan yang maha-esa, para patriot plastik yang saling sikut membenarkan tuannya, nasib masyarakat adat yang semakin di titik nadir sebab habis dihisap oleh pemilik modal, nasib kaum miskin kota yang semakin tak terselamatkan, media massa yang tak henti menyiarkan kebohongan lalu mengacak-ngacak pola pikir penonton, pembangunan yang gencar dan seolah-olah itu yang memang dibutuhkan oleh kita semua, para petinggi negara yang sibuk bernegosiasi dengan para delegasi korporasi multi-nasional, aparatur negara yang semakin fasis, mahasiswa yang tak lepas dari hegemoni kapitalistis, belum lagi segenap konflik horizonal yang terjadi belakangan ini dan menguras tenaga kita semua.
Praduga saya bahwa Indonesia semakin ke arah Amerika Serikat, sedikit demi sedikit semakin jelas. Lihat saja bagaimana pembangunan di kota dan daerah mulai masif, Bali dengan reklamasi Benoa dan Jakarta pun demikian, konflik agraris di berbagai daerah, perampasan tanah oleh pemilik modal dibantu aparatur negara dari tangan masyarakat adat di Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Upaya menghilangkan budaya Indonesia secara perlahan, batik mulai di sensor pemakaiannya di layar kaca. Lihat Amerika sekarang, apakah mereka memiliki jati diri bangsa dan budaya ? Indian sudah mati dan malah jadi komoditas yang laris manis di layar box office.
Saya teringat oleh buku El Fisgon, barang mana negara dunia ketiga yang taat/patuh pada negara dunia pertama maka negara tersebut akan sama majunya. Indonesia patuh pada Amerika, maka seperti ini jadinya. Negara ini akan maju, namun tetap menjadi boneka.
Kadang saya berpikir ada baiknya sosialisme dibangkitkan kembali untuk menentang sistem kapitalisme yang dibawa oleh neo-liberalis hari ini. Tapi saya tidak mau, apabila jadinya seperti Soviet yang habis memberaki Marx dengan sikap otoriteriannya Stalin. Pun saya tidak mau PKI ada lagi. Pun sistem islam juga bisa dijadikan pedang perlawanan terhadap permasalahan sekarang, tapi sayangnya Islam sedang diobok-obok, umatnya dibuat sibuk bertikai antar sesama hingga tak sempat mempelajari hal-hal yang lebih krusial. Saya jadi rindu pada Tan Malaka, beliau komplit di mata saya, terapan sosialisme, pemikiran islam, dan nasionalismenya yang dibutuhkan oleh Indonesia hari ini.
Saya menjadi tak punya waktu untuk merasa takut pada skripsi. Toh hal itu bisa saya manipulasi. Kampus pun sebenarnya adalah inti dari masalah ini tak pernah selesai, karena institusi tersebut tidak pernah membawa saya pada penerapan solusinya. Saya hanya dicetak sebagai kader penurut sistem kapitalis lanjutan.
Sial! Saya tidak bisa untuk tidak gelisah.
Praduga saya bahwa Indonesia semakin ke arah Amerika Serikat, sedikit demi sedikit semakin jelas. Lihat saja bagaimana pembangunan di kota dan daerah mulai masif, Bali dengan reklamasi Benoa dan Jakarta pun demikian, konflik agraris di berbagai daerah, perampasan tanah oleh pemilik modal dibantu aparatur negara dari tangan masyarakat adat di Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Upaya menghilangkan budaya Indonesia secara perlahan, batik mulai di sensor pemakaiannya di layar kaca. Lihat Amerika sekarang, apakah mereka memiliki jati diri bangsa dan budaya ? Indian sudah mati dan malah jadi komoditas yang laris manis di layar box office.
Saya teringat oleh buku El Fisgon, barang mana negara dunia ketiga yang taat/patuh pada negara dunia pertama maka negara tersebut akan sama majunya. Indonesia patuh pada Amerika, maka seperti ini jadinya. Negara ini akan maju, namun tetap menjadi boneka.
Kadang saya berpikir ada baiknya sosialisme dibangkitkan kembali untuk menentang sistem kapitalisme yang dibawa oleh neo-liberalis hari ini. Tapi saya tidak mau, apabila jadinya seperti Soviet yang habis memberaki Marx dengan sikap otoriteriannya Stalin. Pun saya tidak mau PKI ada lagi. Pun sistem islam juga bisa dijadikan pedang perlawanan terhadap permasalahan sekarang, tapi sayangnya Islam sedang diobok-obok, umatnya dibuat sibuk bertikai antar sesama hingga tak sempat mempelajari hal-hal yang lebih krusial. Saya jadi rindu pada Tan Malaka, beliau komplit di mata saya, terapan sosialisme, pemikiran islam, dan nasionalismenya yang dibutuhkan oleh Indonesia hari ini.
Saya menjadi tak punya waktu untuk merasa takut pada skripsi. Toh hal itu bisa saya manipulasi. Kampus pun sebenarnya adalah inti dari masalah ini tak pernah selesai, karena institusi tersebut tidak pernah membawa saya pada penerapan solusinya. Saya hanya dicetak sebagai kader penurut sistem kapitalis lanjutan.
Sial! Saya tidak bisa untuk tidak gelisah.
Rabu, 09 Maret 2016
Beruntung saya bukan seorang pecandu alkohol, bukan pula pribadi yang tidak bisa manggung tanpa cairan memabukan tersebut. Namun keputusan untuk mengurangi pengkonsumsiannya, itu perlu. Meskipun saya selalu menikmatinya dalam momentum tertentu, sekarang perlu dikurangi. Jika bisa saya ingin terbebas darinya. Saya ingin benar-benar menyudahinya. Begitu pula dengan rokok, saya ingin segera mengakhiri zat paling candu dalam hidup saya ini. Setelah saya sadari kedua hal tersebut, terutama rokok, tidak membawa dampak apapun dalam diri saya.
Belakangan saya menyadari telah kehilangan kontrol atas diri saya sendiri. Efek negatifnya tidak hanya pada kesehatan namun juga pada finansial. Terutama mengkonsumsi rokok, bikin boros kantong. Saya tidak bisa keluar dari ketrgantungan pada rokok, dalam setiap aktivitas selalu disertai dengan substansi tersebut. Bahkan apabila dulu sewaktu sakit saya masih bisa bertahan untuk tidak menikmatinya, sekarang justru dalam kondisi seperti apapun, saya tetap menghisap rokok. Sudah saatnya untuk berhenti.
Lebih dari itu, saya teringat perkataan seseorang: barangapapun yang bersifatnya candu adalah dosa hukumnya. Tidak bermaksud untuk relijius di sini, tapi adakalanya hal itu benar. Tak perlu memikirkan dosa, sebab efek negatifnya sudah terasa. Selain alkohol dan rokok, saya akan mulai mengurangi beberapa hal yang sifatnya candu dalam hidup. Karena candu bersifat ketergantungan, saya ingin mengambol kontrol kembali dalam hidup ini.
Belakangan saya menyadari telah kehilangan kontrol atas diri saya sendiri. Efek negatifnya tidak hanya pada kesehatan namun juga pada finansial. Terutama mengkonsumsi rokok, bikin boros kantong. Saya tidak bisa keluar dari ketrgantungan pada rokok, dalam setiap aktivitas selalu disertai dengan substansi tersebut. Bahkan apabila dulu sewaktu sakit saya masih bisa bertahan untuk tidak menikmatinya, sekarang justru dalam kondisi seperti apapun, saya tetap menghisap rokok. Sudah saatnya untuk berhenti.
Lebih dari itu, saya teringat perkataan seseorang: barangapapun yang bersifatnya candu adalah dosa hukumnya. Tidak bermaksud untuk relijius di sini, tapi adakalanya hal itu benar. Tak perlu memikirkan dosa, sebab efek negatifnya sudah terasa. Selain alkohol dan rokok, saya akan mulai mengurangi beberapa hal yang sifatnya candu dalam hidup. Karena candu bersifat ketergantungan, saya ingin mengambol kontrol kembali dalam hidup ini.
Langganan:
Komentar (Atom)