Kamis, 28 Juli 2016

"Jangan begadang, besok telambat!" pesannya pada saya, malam sebelum hari itu.

Papa sedang asyik berbaring di atas kasurnya, menyaksikan saya yang repot mencocokan setelan jas demi keperluan sidang skripsi. Saya tak biasa dengan pakaian seperti ini sebelumnya, terlalu formal, tapi ini suatu keharusan. Lagi pula sepertinya saya mulai menyukai berbusana rapih nan formal, asyik juga ternyata. Jas hitam dipadukan dengan celanan bahan hitam dengan daleman kemeja putih. Menarik sekali.

Malam itu saya sedikit repot, bukan karena saja harus menyesuaikan dan menyamankan diri dengan busanan seperti itu. Melainkan ada satu hal yang mengganjal saya yakni saya tidak bisa menggunakan dasi. Papa pun lupa cara pakai dasi, mungkin biasa dipakaikan mama. Sehingga saya harus melihat tutorial di internet. Beberapa kali saya mengikuti dan gagal, saya terus mengulangnya. Pada percobaan yang kesekian kalinya, saya pun berhasil.

"Aa yang mau sidang, papa yang deg-deg-an," ujarnya.

Kalau kata mama, itu naluri orang tua. Saya pun menjadi merasa sangat intim ketika mendengar hal tersebut keluar dari mulut papa. Sekaligus menjadi sangat "terbakar" untuk cepat-cepat presentasi. Sejujurnya, mental saya sudah sangatlah siap. Sebab sudah latihan presentasi dari jauh-jauh hari. Saya telah gagal total pada sidang proporal beberapa bulan lalu dan tidak ingin menuai hal yang sama pada kesempatan terakhir ini. Saya harus bisa melampaui diri saya sebelumnya.

Mendapatkan penguji sidang yang konon berbahaya, tidak membuat saya gentar sama sekali. Saya justru menjadi semakin terpacu untuk melakukan hal yang terbaik.

Ketika hari itu tiba, saya benar-benar tak bisa menahan diri untuk cepat-cepat menghadapi para penguji. Salah satu penguji saya yakni Dekan fakultas saya sendiri, sosok yang banyak dibilang cukup berbahaya sebab beberapa mahasiswa gagal lanjut wisuda karenanya. Jujur, wajah beliau memang menyeramkan. Tapi saya selalu percaya bahwa di balik wajah seram seseorang selalu terdapat celah untuk dijinakan. Beruntung saya mendapat posisi ke tiga untuk presentasi, sehingga saya bisa mengamati para penguji termasuk Dekan saya tersebut. Benar saja, Dekan saya hanya seram wajahnya. Ia mempunyai selera humor yang cukup sarkas dan cerdik khas kaum intelektual yang biasa saya temui di forum diskusi. Pun saya sudah tidak kaget lagi berhadapan dengan sosok tipikal seperti ini. Kuncinya ialah menguasai materi, sebab beliau senang sekali berdiskusi. Benar saja, selama presentasi saya tidak melihat ia sebagai sosok pengkritik namun sebaliknya, saya justru merasa seperti sedang berdiskusi dengan teman-teman yang biasa saya ajak berdiskusi masalah sos-pol. Praduga tentang sosoknya yang menakutkan seketika luntur begitu saja, saya malah menginkan durasi yang lebih panjang lagi untuk presentasi. Saya ingin memuntahkan semua pikiran saya dihadapannya, namun sayangnya saya perlu menyadari bahwa momentumnya ialah sidang bukan nongkrong. Maka saya urungkan niat tersebut. Saya kembalikan kodrat saya sebagai mahasiswa yang sedang di uji.

"Bagaimana sidangnya ?" tanya papa melalaui aplikasi chat.

Saya menjawab dengan mantab "S.Ikom sekarang!" beliau memanjatkan rasa syukur dan saya menjadi lega seada-adanya. Dengan mantab saya mengirim pesan kepada adik perempuan saya: sekarang nama gua Alfian Putra Abdi S.Ikom. Mama pun langsung menelfon dan bilang, "Kata Putri nama aa sekarang jadi ada S.Ikom nya ?" Saya tersenyum jumawa.

Tapi ketika para penguji mengumumkan kelulusan, saya tidak bisa lantas bahagia begitu saja sebab seorang kawan ada yang harus ditunda kelulusannya hingga tahun depan. Cukup sedih dan sialnya tidak ada yang bisa kami (saya dan teman-teman) lakukan selain memberikan motivasi semata. Hal tersebut lantas membuat saya mengurungkan niat untuk teriak (niat awal saya apabila semua lulus saya mau teriak di depan Dikjar dengan kata-kata serapah sebagai ekspresi kebebasan).

Sekarang semuanya telah berlalu, walaupun menyisakan revisian. Tapi bukan soal, sebab saya percaya bisa menyelesaikannya. Oh yah, beruntungnya lagi, saya mendapatkan tawaran kerja. Saya benar-benar bersemangat. Kira-kira tantangan apa lagi yang akan saya temui nanti?

Rabu, 27 Juli 2016

"Ribuan kilo jalan yang kau tempuh,
Lewati rintang untuk aku anakmu,
Ibuku sayang masih terus berjalan,
Walau tapak kaki, penuh darah... Penuh nanah.."

- Iwan Fals

Pagi ini dia (mama) menelfon, suaranya bertenaga sekali. Dia mengucapkan selamat atas kelulusan yang saya raih kemarin, ditambah dengan segala puja-puji syarat doa khas orang tua. Saya tersenyum dari balik sambungan telfon nir-kabel sembari mengucap syukur. Mama sepertinya senang atas apa yang telah saya dapatkan, saya pun turut beribu kali lipat lebih senang jadinya. Sebab inilah yang saya persiapkan dan peruntukan untuknya. Pun tak ada kebahagian yang hakiki daripada mengetahui orang yang kita sayang merasa bahagia dari apa yang kita lakukan.

Kelulusan ini bukanlah sebuah bentuk pencapaian dari tuntutan yang ia letakan dalam bahu saya. Sebab sejatinya ia tidak pernah menuntut apa-apa demi dirinya. Maka dari itu, kelulusan ini ialah bentuk dedikasi saya untuk beliau. Sosok wanita terkuat yang pernah saya kenal selama hidup ini.

Dari segala macam problematika hidup yang menimpa kami sekeluarga, beliau adalah sosok yang tegar tak tergoyahkan. Walaupun kadang goyang namun ia masih kokoh berdiri. Saya tak mampu membayangkan, apabila berada di posisi sekrusial dia. Mungkin saya sudah jatuh sinting seada-adanya karena tak kuat menahan cobaan hidup yang mendera. Tapi beliau, tidak gentar sama sekali. Mama itu hebat.

Sempat tadi dia bercerita bahwa baru saja mendapat musibah. Uang tabungan dicelengannya hilang, dugaannya disebabkan oleh tuyul. "Pas mama tebok isinya cuma gocengan. Yang cepean sama gocapaan hilang a," jelasnya. Kata mama beberapa warga yang lain pun mengalami kehilangan yang misterius. Mama bercerita sembari ketawa, "Ah ada-ada aja dah."

Dia masih bisa-bisanya tertawa meskipun uang tabungan tersebut ia peruntukan untuk berangkat haji. Hal yang kemudian membuat saya tertegun.

Adakah frasa yang lebih dari kata hebat ? Jika ada maka beliau pantas menyandangnya. Belum selesai saya memuja ketegarannya berjalan diatas bauran paku dan pecahan kaca, ia malah sedang asyik mengumpulkan pundi-pundi untuk ke Arab Saudi.

Mendengar hal tersebut saya menjadi lemas seketika. Saya tak mampu menahan rasa haru atas kegigihan mama dan juga kebahagiannya dalam menghidupi hidupnya-menikmati setiap detiknya dengan selalu bersyukur; dan rasa kagum yang teramat saya rasakan pada sosoknya.

Saya lemas, sebab belum bisa memberikan apa-apa untuknya. Saya malu, benar-benar malu. Beliau memang tidak pernah menuntut apa-apa untuk saya memberikan sesuatu padanya. Bahkan ketika ia tau saya lulus dan bakal menjadi calon sarjana, ia berpesan untuk saya agar lekas mencari kerja. "Mudah-mudah dapet kerja cepet ya a. Kan kalau kerja enak, aa mau beli apa juga bisa jadinya," ujarnya.

Sabtu, 23 Juli 2016

Tidak perlu berteriak tentang anti-patriarki dan membumbungkan panji feminisme tinggi-tinggi. Sebab saya telah banyak menemukan wanita-wanita hebat yang tak pernah mengenal apa itu feminisme. Di lingkungan keluarga, komunitas, organisasi, fakultas, dan pertemanan. Saya mendapati wanita-wanita yang gesit, gigih, dan penuh kekuatan bahkan tidak kalah dengan kaum pria. Malah kecenderungan yang saya dapati, para wanita tersebut menjungkir balikan kondisi, lebih berperan dari pada pria.

Saya menaruh respek pada mereka, terbenam dalam diam namun memberi andil yang cukup besar pada sekitarnya. Tidak peduli soal gender, tidak perlu menelisik Emma Goldman terlebih dahulu, mereka telah menjadi feminis (bagi saya).

Rabu, 20 Juli 2016

Kau t'lah menjabah beberapa doa dari sekian banyak yang ku rapalkan:
Aku ingin berhenti merokok, kau hadiahi ku sakit berkepanjangan
Jadilah aku mulai risau menghisap tembakau
Aku ingin menyelesaikan akademik secepatnya
Maka kau antar ku menuju gerbang sarjana
Aku ingin cepat mendapatkan pekerjaan
Kau bawa diri ku keluar berjumpa kawan
Jadilah aku ditawarkan pekerjaan
Tapi sayang tuhan!
Hamba mu ini belum bisa lentur menggelar sajadah
Suka acuh manakala adzan bersenandung
Maaf tuhan, aku tidak menjadi hamba taat
Namun kau masih saja berbuat baik pada hamba
Kau memang benar maha-pengasih

Selasa, 19 Juli 2016

Pusing, benar-benar pusing, saya melihat derasnya arus informasi saat ini. Dari berbagai penjuru sosial media, informasi datang bertubi-tubi, tanpa henti, terus dan terus memaksa untuk dikonsumsi. Semua menawarkan informasi yang beragam kadang tak jarang kontradiktif bahkan provokatif. Jelas ini menakutkan, sebab mana yang bisa dipercaya. Semua nir-amanah.

Semoga kita semua bisa melakukan filterisasi di tengah banjir informasi saat ini.

Hati-hati!!!

Jumat, 01 Juli 2016

Berdoalah kita pada setiap langkah, kepada zat yang tak pernah mampu kita lihat dan cerna. Zat yang hanya bisa kita terka-terka. Bahwasanya dalam hidup tak ada yang lebih nikmat dari nya selain di berikan energi serta semangat dalam menjalani hidup.

Kita hanya perlu energi dan semangat, cukup itu.

Sisanya biarkanlah tangan, kaki, dan pikiran ini yang bekerja.

Jangan bicara soal mana yang benar dan mana yang salah. Hidup adalah proses yang tak henti, tahapan pembelajaran yang tak pernah jua usai.

Menjadi benar tanpa pernah berbuat salah adalah sebuah keangkuhan. Berbuat tak salah tanpa mau menjadi benar adalah sebuah kebanalan.

Sekali lagi, hidup ini bukan soal itu.

Berjalanlah terus, terus, sejauh yang kita bisa. Berdoa terus, minta padanya energi dan semangat.

Diujung jalan itu, kelak kita akan tau tentang makna salah dan benar.


**Sebuah dedikasi untuk teman-teman yang sedang berjuang mencari arti untuk hidupnya