Rabu, 20 April 2016



Saya mungkin bukan penganut komunisme, bukan juga pembaca Marx yang taat. Tidak terlalu menahu soal Lenin, Stalin, ataupun dinamika Komunisme di beberapa negara lainnya seperti Vietnam, Cina, dsb. Apalagi jika membicarakan soal komunisme di Indonesia, masih banyak yang perlu saya tela'ah lagi.

Namun melihat komentar dari Taufiq Ismail (yang notabene adalah tokoh Manikebu), saya melihat ada upaya penyeragaman terhadap term komunisme di Indonesia yang dibawa oleh PKI. Ada baiknya sebelum mengkritis sesuatu, perlu mendekatkan diri pada objeknya, bukan ? Saya mungkin tidak terlalu paham soal PKI. Namun yang saya ketahui adalah bahwa dalam intern PKI sendiri terjadi perperbedaan perspektif, antara Musso yang lebih condong ke Soviet dan Aidit yang lebih condong ke RRC. Bahkan dari mereka berdua, ada satu nama yakni Tan Malaka yang tidak sejalan. Menurut buku "The Leadership Secrets of: Tan Malaka" dapat diketahui Malaka adalah ex-pemimpin PKI yang setuju secara tidak langsung dengan konsep Pancasila-nya Bung Karno. Intinya, ada tiga perbedaan dalam kubu PKI. Maka apabila kita hanya memahaminya dari satu sudut atau perspektif tokoh PKI saja, dan keburu melakukan generalisasi, itu sama saja kebanalan. Tapi jika kita mau, setidaknya barang sejenak untuk memahami, maka kita akan malu untuk melakukan generalisasi pada PKI.

Saya tidak menyukai gaya kepemimpinan Stalin ketika menduduki bangku tertinggi Soviet, sebabnya ia begitu arogan nan diktator. Siapapun tokoh PKI yang mengacu pada gayanya Stalin, saya pun akan menolaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar