Sepi. Hah apa itu sepi ?
Kata tersebutlah yang dalam lima tahun terakhir menghantui kinerja otak ku. Aku punya banyak kegiatan, mulai dari kuliah, band, zine, dan aktivitas di LPM. Tapi, kata itu tidak pernah beranjak. Sepi selalu menjadi sepi. Sepi bukan ramai, jelas.
Alone in the crowd adalah sebuah peristiwa yang terus terjadi. Kadang aku berfikir, apa yang sedang terjadi ? atau memang tidak sedang terjadi apa-apa ? Dua pertanyaan yang sama-sama memperlambat kinerja otak ku dan sekaligus dapat merubah mood ku dalam sekejap.
Menghabiskan waktu bersama ribuan Mp3 bajakan didalam kamar yang kecil nan remang adalah teman sejati sekaligus bisu semenjak beberapa tahun terakhir ini. Apakah aku anti-sosial ? Mungkin apabila aku tidak mempunyai kegiatan-kegitan diatas, saat itu aku sudah menjadi seperti itu.
Lantas, kenapa aku masih merasakan sepi ? apa yang sedang terjadi ? atau memang tidak sedang terjadi apa-apa ?
Blog, bagi ku adalah tempat penetrasi kegundahan ketika hati ini mulai orgasme dengan segala kemungkinan yang terjadi diatas dunia semu ini. Disaat tidak ada lagi satupun wadah yang dapat dijadikan pelampiasaan hasrat berteriak.
Apakah hal ini yang dirasakan sama oleh sahabat ku yang kini menjadi musuh oleh kebanyakan rekan terdekat ku ? Apa yang sedang terjadi ? atau memang tidak sedang terjadi apa-apa ?
Rekan terdekat, sahabat, pacar atau apapun itu sebutannya yang mengasosiasikan sebuah bentuk kedekatan antar satu individu dengan individu lainnya, apa makna dari semua itu ?
Dunia maya adalah dunia nyata bagi ku. Begitu sebaliknya.
Terdengar ironis memang.
Rabu, 12 Juni 2013
Minggu, 02 Juni 2013
Biarkanlah...
Saya sudah terbiasa melakukannya sendiri
Sepi adalah sebuah perasaan yang kemudian bertransformasi menjadi taji
Orang terjauh terkadang bisa menjadi orang yang begitu hangat
Orang terdekat terkadang bisa menjadi orang yang begitu dingin
Iri, tapi apalah gunanya, semuanya bisa ku handle sendiri
Biarkanlah mereka hanya menjadi saksi dari kesuksesan ku nanti
Tanpa perlu sedikitpun memberi semangat ataupun basa-basi dukungan
Biarkanlah...
Saya sudah terbiasa melakukannya sendiri
Sepi adalah sebuah perasaan yang kemudian bertransformasi menjadi taji
Orang terjauh terkadang bisa menjadi orang yang begitu hangat
Orang terdekat terkadang bisa menjadi orang yang begitu dingin
Iri, tapi apalah gunanya, semuanya bisa ku handle sendiri
Biarkanlah mereka hanya menjadi saksi dari kesuksesan ku nanti
Tanpa perlu sedikitpun memberi semangat ataupun basa-basi dukungan
Biarkanlah...
Tahun ini adalah tahun yang cukup revolusioner bagi ku. Revolusioner dalam tatanan pemikiran. Kenapa begitu ? Sejak awal tahun hingga saat ini, aku banyak berjumpa dengan generasi-generasi angkatan ku yang memiliki pemikiran cukup kritis memandang dunia yang sedang dalam kondisi tidak prima. Hal inilah yang sebenarnya aku impikan dalam kurang lebih dua tahu terakhir. Dimana semua orang (khususnya generasi muda) sadar bahwa ada sesuatu kejanggalan yang sedang terjadi dalam hidup mereka. Bahwasanya hidup mereka sedang dipermainkan oleh sistem kapital yang keji. Seharusnya aku dapat ikut serta merasakan euforia ini. Namun sayang, disaat semua impian itu kini mulai perlahan terwujud, aku justru yang melembek. Gairah ku hilang, tak meletup letup lagi seperti ketika aku memandang sinis semua bentuk korporasi di negara dunia ketiga ini. Aku benar-benar sudah tidak peduli dengan kondisi dunia yang kan seperti apa. Musuh kita bukan hanya presiden yang lalai menjalankan amanah, bukan hanya pegawai kepemerintahan yang korup, bukan hanya para korporasi-korporasi multinasional yang hendak merampok keuntungan dari setiap inci lini deru nafas kita, tapi musuh kita adalah diri kita sendiri. Diri kita yang tak mau berubah namun hanya menuntut perubahan. Diri kita yang masih saja terjebak dalamhedonisme semu duniawi. Diri kita yang tak pernah tahan melihat iklan produk mereka. Diri kita yang terjebak dalam hawa nafsu. Aku lelah menghadapi diri-diri tersebut. Revolusi bagi ku adalah sebuah keputusan yang amat personal saat ini. Revolusi dapat terjadi jika dimulai dari diri sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)