Kebimbangan ini merasuk hingga menyumbat peredaran oksigen sehingga otak ini kian terasa pening. Berangkat dari ketidak tegasan dan embrio ke-plim planan. Kini kembali terdampar ditengah simpang jalan. Dan bingung mau kemana. Ingin sejenak merasakan ketiadaan hidup. Mungkin adalah pilihan tepat dari pada terus terdampar pada dasar kebimbangan ini. Kinerja otak kian melambat. Aliran darah serasa tak pernah jalan dan sesekali jalan namun tersendat. Saktinya terminologi karma berkecamuk dalam benak begitu lekat. Karma itu ada atau tidak sebenarnya ? sedikit risih dengan itu. Berharap karma adalah sebuah ketakutan yang di ciptakan manusia untuk menakuti manusia lainnya. Kesal mendengarnya.
Bernafas pun serasa enggan. Karna bimbang seperti asap knalpot Debora yang menyesaki dada. Bergelinjang resah membuat diri ingin merasakan punah. Apa perlu menjadi bajingan kembali untuk mengakhiri kebimbangan ini ? Jika perlu, konsekuensi adalah sesuatu yang harus di hadapi bukan hanya di terima. Lagi-lagi karma mengganjal. Karma itu ada atau tidak sebenarnya ? sedikit risih dengan itu.
Untuk kau yang tak pernah ku mengerti, ingin sekali telinga ini tak mendengar setiap bahasa yang kau lafalkan. Untuk kau yang ku duga berdarah arab, ingin sekali ku mencoba mengarungi samudra hingga kesetiga bermuda hanya berdua. Namun faktanya, kini diri justru terdampar dalam persimpangan jalan. Traffic light terus berganti warna. Namun pikiran terus saja resah. Kembali ku tanya, karma itu ada atau tidak sebenarnya ? sedikit risih dengan itu.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Jumat, 16 Agustus 2013
Untuk Kau Yang Tak Pernah Ku Mengerti Sama Sekali
Sudahlah...
Nikmati saja apa yang kau impikan dulu
Biarkan ku mengalir sebagai mana mestinya
Lepaskan semua yang belenggu jiwa ku
Demi apapun yang kita agungkan, aku lelah
Sudahlah...
Simpan semua prosa indah nan berbisa
Kubur semua rayuan manis nan menggoda
Selipkan saja harapan serta doa
Demi apapun yang kita agungkan, aku muak
Sudahlah...
Sudahlah...
Sudahlah...
Baringkan tubuh mu
Hela nafas panjang
Selamat datang di kenyataan
Nikmati saja apa yang kau impikan dulu
Biarkan ku mengalir sebagai mana mestinya
Lepaskan semua yang belenggu jiwa ku
Demi apapun yang kita agungkan, aku lelah
Sudahlah...
Simpan semua prosa indah nan berbisa
Kubur semua rayuan manis nan menggoda
Selipkan saja harapan serta doa
Demi apapun yang kita agungkan, aku muak
Sudahlah...
Sudahlah...
Sudahlah...
Baringkan tubuh mu
Hela nafas panjang
Selamat datang di kenyataan
Langganan:
Komentar (Atom)